Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero Part ~ 13

Mumpung admin lagi banjir ide nih, jadi langsung aja bikin kelanjutannya untuk cerbung romantis Mr Hero vs Mrs Zero yang sebelumnya sempet tertunda. Buat yang masih ingin lirik part sebelumnya klik aja disini Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 12. Happy reading...

Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero Part ~ 13
Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero Part ~ 13

Mr Hero vs Mrs Zero


Olive memeriksa kembali tas ranselnya, hampir sebagian dari isididalamnya justru malah chiki-chiki yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu, cemilan yang akan ia makan diperjanan nanti ke camping. Ia sendiri hanya membawa tiga baju, untuk berangkat untuk tidur dan satu lagi jelas untuk pulang. Masalah makeup hanya cukup lipstik dan bedak padatnya saja. Faktanya, ia termasuk salah satu dari gadis-gadis yang tidak suka berdandan ria. Bukan berarti dia membenci gadis yang bermakup tebal, dia hanya tidak menginginkan hal itu diwajahnya.

"Hei, sudah dari tadi?" tepukan dibahu Olive membuatnya menoleh, dan mendapati Devi yang tersenyum lebar kearahnya. Olive balas tersenyum kemudian melirik jam ditangannya, tepat pukul 07:00 wib, masih cukup pagi.

"Belum, paling baru sekitar 5 menit yang lalu aku tiba disini," lanjutnya kemudian melirik beberapa anak-anak lain yang sudah mulai berkumpul. Ternyata banyak juga yang ikut kegiatan camping ini. Setaunya anak pramuka tidak sebanyak ini, ia yakin selebihnya hanya sekadar ikut meramaikan saja. Tiba-tiba terdengar suara teriakan beberapa anak cewek yang tampak histeris, Olive dan Devi saling pandang sesaat kemudian kembali membuat jiwa kepo keduanya berontak minta segera dipuaskan. Akhirnya membuat kedua gadis itu melangkah menghampiri asal suara.

Dengan sedikit berjinjit akhirnya mereka bisa melihat juga siapa objek pembuat kerusuhan itu, dari kejauhan tampak 4 orang berjalan santai, yang Olive seniri kenali sebagai pentolan sekolah mereka, yaitu Devo, Randi, Arial dan Ilham, yah walau jelas saja yang menjadi objek teriakan pastilah untuk Devo dan Arial, kedua pria itu memang cocok untuk dijadikan idola, melihat dari gayanya terlihat bebas dan tampa beban. Kemudian tak ketinggalan sikap cuek mereka yang jelas makin membuat gadis-gadis penasaran.

Olive mundur beberapa langkah, setelah memuaskan rasa penasarannya ia menolak untuk ikut berheboh-ria. Devi mengikuti dari samping, sadar kalau persahabatan mereka tercipta bukan karena kebetulan semata, tapi memang kebanyakan dari hobby dan pendapat mereka dalam menilai sesuatu selalu sama.

"Ngomong-ngomong, Revan mana?" tanya Olive.

"Masih dijalan, katanya bentar lagi sampe," jawab Devi setelah memasukkan kembali hanphonenya kedalam saku, mungkin tadi gadis itu menanyakan kabar dimana keberadaan kekasihnya.

"Dempetin aja terus ya itu laki, kamu nggak takut kalau mereka bakal ikutan histeris ngelihat Revan menggunakan baju bebasnya. Kegantengan tuh anak bakal tambah berkali lipat loh," goga Olive sambil mengedipkan sebelah matanya, karena ia sendiri tau kalau Revan juga termasuk salah satu idola disekolahnya.

"Enggak deh, malu. Kamu tau sendiri selama ini aku suka sama dia juga beraninya lirik dari jauh doang, paling parah dapatnya jadi Stalker, mana berani dempetin terus. Nanti yang ada juga dianya bakal risih," tolak Devi sok malu-malu.

"Hallah, basi banget sih kamu. Bilang aja mau dideketin, yaudah sih naik dulu yuk. Entar tuh anak juga nyusulkan? Makin panas nih," ajak Olive sambil melangkah kearah bus yang sudah siap membawa mereka pergi.

"Panas pagi bagus untuk kesehatan kali neng," ucap Devi namun tak urung ia juga melangkah mengikuti Olive, sementara Olive hanya membalas dengan cibiran tanda tidak perduli, kemudian mereka memilih duduk dikursi paling belakang, tempat yang entah kenapa memang dinobatkan menjadi tempat paling disuka dari mereka. Sudah dibilang bukan, keduanya bersahabat bukan karena kebetulan semata, terlebih lagi pertemuan pertama mereka juga saat sama-sama sering duduk dikursi bus belakang.

"Aku mau disamping jendela duduknya," ucap Devi saat Olive sudah duduk mendahuluinya disamping jendela bus.

"Kamu mau aku ngungsi kedepan?" ancam Olive, "Ogah banget jadi obat nyamuk ditengah. Nggak lupa kalau Revan bakal ikutan naik kesini kan?" lanjut Olive yang membuat Devi mau nggak mau tersenyum juga.

"Mungkin dia bakal ikut temen-temennya," ucap Devi lirih, yang jelas ekpresi dan ucapannya berbanding balik, lagi-lagi membuat Olive mencibir.

"Huuu, gaya si Revan mau duduk sama temen-temennya? Imposible banget, apalagi kayaknya dari tadi tuh anak nggak bosen-bosen chat kamu mulu kan?" timpal Olive yang langsung dibalas cengengesan malu Devi. Dan tepat saat itu pria yang sedang dibicarakan masuk kebus dan tersenyum kearah mereka. Olive balas tersenyum sekilas sementara Devi sendiri, ah sudahlah. Olive akan pura-pura tidak melihat senyuman lebar gadis itu, mau dilihat dari ujung pipet juga ketahuan banget nih anak sukanya.

"Hei, udah lama ya?" tanya Revan dan ikut duduk disamping Devi.

"Belum kok, kita juga baru sampenya. Iya kan Liv,?" jawab Devi dan kemudian meminta persetujuan Olive untuk membenarkan ucapannya yang hanya dibalas anggukan Olive.

"Tadi pagi kebetulan banget ban motornya bocor, jadi rada telat deh. Untung nggak ditinggal, aku lihat tadi anak pramuka masih dapat pengarahan dilapangan sekolah. Kita nggak ikutan?" tanya Revan.

"Nggak ah, males. Entar biar anak pramuka aja yang bimbing, aku mau terima bersih aja, lagiankan kita disini cuma mau jadi penonton pameran kemapuan tuh anak pramuka," kali ini Olive yang menjawab dan keduanya langsung tertawa.

"Iya juga sih, dan kayaknya yang berfikir begitu nggak cuma kita aja ya," balas Revan yang melihat beberapa anak-anak lain ikut memasuki bus yang sama.

"Aduh, aku masih ngantuk banget nih, kalian lanjut aja ngobrolnya ya. Aku mau tidur dulu," ucap Olive sambil memasang handset ditelinganya, mencari lagu dari Mp3 hanphonenya, Devi dan Revan membalas dengan anggukan, mereka juga tau kalau Devi masih kerja kerja part time kemaren.

Mr Hero vs Mrs Zero


"Aaahhh... Akhirnya sampe juga..." Olive merengnggangkan tangannya, menikmati udara semilir dengan angin yang berhembus menerpa wajahnya, perasaannya langsung terasa jauh lebih baik. Tidak menyesal memutuskan mengikuti Devi kesini, yah terlepas dari fakta ia hanya untuk dijadikan obat nyamuk tentunya. Tapi meskipun begitu Devi masih menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu bertiga dari pada jalan berdua saja dengan kekasihnya.

"Kakiku hampir patah..." keluh Devi sambil meluruskan kakinya dirumput, Revan mengikuti dan mengulurkan sebotol air yang sudah dibukanya lebih dulu. Olive melirik kearah pasangan kekasih yang siap membuatnya patah hati kapan saja, ia menggeleng sekilas kemudian menguatkan hatinya, setidaknya sahabatnya tampak bahagia, ia tidak mungkin merusak moment manis mereka hanya karena kecemburuan tidak memiliki seseorang disampingnya. Olive menggeleng sekilas membuang pandangannya memperhatikan hutan sekitar, kemudian ikut meminum air dari botol yang diambilnya dari tas.

"Ngomong-ngomong, kok bisa sih kita nggak satu kelompok," ucap Devi kesel saat mengingat pembagian kelompok tepat saat turun dari bus tadi. Entah kenapa padahal mereka kan bukan salah satu anggota pramuka, namun kelompok sudah dibagi saat pendaftaran, jika tau seperti itu seharusnya mereka meminta untuk dijadikan satu kelompok saja.

"Yaahh, mau bagaimana lagi. Bukan kita yang berwenang untuk itu, setidaknya kan kamu aman karena satu kelompok sama Revan," balas Olive akhirya, meskipun sebelumnya ia juga kesal, hampir sebagian kelompoknya terdiri dari anak-anak yang tidak terlalu dikenalnya, terlebih lagi ia masih tergolong amatir untuk mengikuti perjalanan seperti ini. Tapi kemudian, ia bisa mengambil sisi positifnya, lagi-lagi ini demi kedua sahabatnya ini, nggak lucu juga kalau ia terus-terusan menjadi obat nyamuk, dan Revan sendiri meskipun pria itu selalu tersenyum dan ramah, ia yakin sebenarnya dalam hati juga ingin hanya berduaan dengan kekasihnya.

"Kamu yakin benar-benar nggak apa-apa?" tanya Devi khawatir "Atau kita minta salah satu kelompokku buat ditukar yuk, mungkin masih bisa," ajaknya kemudian sambil berdiri.

"Yaellaahh, aku bukan anak kecil lagi. Tenang aja," tolak Olive yang langsung mendudukan tubuhnya dirumput, Devi masih menatap cemas kearahnya, namun kemudian ia akhirnya setuju juga dan kembali duduk, rasa lelah masih terasa setelah berjalan menelusuri hutan ketempat camping mereka.

"Emm Sorry, Bisa pinjem Olivenya?" pertanyaan itu membuat Olive menoleh, diikuti Devi dan Revan "Kelompok kita lagi mau diskusi dan gue diminta ngumpulin anggota, sebenernya yang lain sudah pada kumpul sih. Tinggal Olivenya aja lagi yang belum dateng," lanjutnya. Olive melirik kearah Devi sekilas yang dibalas anggukan oleh sahabatnya.

"Aku duluan ya," pamit Olive kemudian melangkah pergi "Ngomong-ngomong untung kita satu kelompok ya, setidaknya ada yang sudah aku kenal dan nggak terlalu bikin canggung," lanjutnya kearah Arial.

"Gue seneng aja sih kalau loe juga nggak canggung sama gue," balas Arial ramah.

"Tapi bisa ya idola diminta ngumpulin anggota?" tanya Olive mengingat seorang Arial yang menjemputnya.

"Nggak usah bikin malu, gue nggak sepopuler itu kali. Lagian anak pramuka kayaknya nggak berfikir yang sama," balas Arial lagi sambil tersenyum, Devi juga melakukan hal yang sama mencairkan situasi yang mungkin akan canggung jika ia terlalu menanggapi dengan serius. "Ah iya, gue nggak keberatan sih kalau harus ngejemput elo, tapi gimana kalau loe kasi nomor loe biar gue gampang nemuinnya lain kali?" lanjut Arial yang diluar dugaan, Olive mengangkat sebelah alisnya tanda berfikir, namun kemudian ia tidak punya alasan untuk menolak.

"Bolleh, sebentar ya..." balasnya dan merogoh saku celananya, mengeluarkan hanphone dan mencari contack dihapenya, ingatannya memang lemah untuk sekadar menghapal nomor hanphonenya sendiri, Arial melakukan hal yang sama ia juga mengeluarkan hapenya dan siap mencatat nomor yang akan Olive ucapkan.

"Emm nih, 0823..." ucapan Olive terhenti saat tiba-tiba hanphone yang berada ditangannya telah berpindah tangan dengan cepat, kaget Olive langsung menatap kearah perampok yang sangat tidak sopan itu, namun kalimat umpatan yang siap ia katakan terhenti dikerongkongan begitu menyadari siapa makhluk perampok kecil dihadapannya.

"Sembarangan banget ngasi nomor hanphone keorang lain," protes David kesal dan Arial yang melihat itu langsung melirik kearah Olive penuh tanya, namun gadis itu justru hanya terdiam dengan binar mata yang sulit diartikan. Arial tentu saja tidak akan mengatakan jika binar mata itu jelas menyimpan kerinduan, Tidak. Arial akan lebih senang jika ia tidak mengetahuinya, kemudian dalam hati ia menanyakan siapa pria yang mampu menarik perhatian Olive ini.

Bersambung ke Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 14

Detail cerbung Mr Hero vs Mrs Zero

Tidak ada komentar:

Posting Komentar