Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 29

Masih sisa satu part lagi buat kelarin ini cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero ya. Ide udah mentok banget nggak bisa dinego lagi soalnya. Krik krik krik...

Dan buat yang pengen ngelirik part sebelumnya, bisa klik disini. Happy reading...

Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero Part ~ 29
Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero Part ~ 29

Mr Hero vs Mrs Zero


Olive melangkah menelusuri koridor SMA David yang lumayan luas, untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri untuk menghampiri pria itu terlebih dahulu. Bahkan ia membiarkan Devi untuk pulang sendiri, mengabaikan gadis itu yang ia yakini sedang punya masalah dengan Revan, namun kali ini ia harus menemui David untuk meminta maaf, ia benar-benar tidak bisa tenang setelah kejadian di Mall beberapa waktu lalu. David sama sekali tidak membalas pesannya, bahkan tidak juga ditemuinya ditoko buku, pria itu benar-benar menghilang dari hidupnya.

Meskipun kejadian ini sudah satu minggu berlalu, mengingat seminggu ini juga sekolah sedang cuti selesai ujian, Olive tidak bisa menemui David disekolahnya, dan jelas saja ia juga tidak tau dimana rumah pria itu, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu saat dimana sekolah kembali dimulai saat ini.

Olive membawa bingkisan ditangan kanannya sementara tangan kiri ia gunakan untuk melihat jam yang melingkar dipergelangan, mendadak was-was apakah pria itu sudah pulang. Saat melewati Hendra yang baru keluar dari arah Toilet, Olive langsung mencegatnya, ia kenal pria ini karena pernah dibawa David ke toko bukunya juga ditemuinya saat acara camping terakhir kali.

Olive meminta bantuan Hendra untuk memanggil David agar menemuinya, dan pria itu menyetujui membuat Olive sedikit merasa lega, berarti pria itu masih berada disekolah. Ia menunggu sendiri sambil sesekali melihat jam ditangannya. Dan harap-harap cemas Apakah David masih mau menemuinya lagi.

“Heh, apa yang kamu lakukan disini?” bentak seseorang dari samping, membuat Olive menoleh dan menyadari Nita yang tepat berada didepannya.

“Bukan urusanmu,” balas Olive sambil membuang muka, tidak perduli akan sikap tidak sopan Nita yang terang-terangan mengajaknya untuk bermusuhan. Tentu saja hal itu membuat gadis itu berang dan menatap tajam kearah Olive.

“Berani sekali kamu bersikap tidak sopan disekolahku. Pergi kamu dari sini,” usir Nita langsung, Olive menoleh dan menatapnya dengan berani.

“Tidak sampai aku memberikan apa yang harus aku berikan pada seseorang,” jawab Olive tegas, Nita melirik bingkisan ditangan Olive yang langsung ia yakini akan diberikan pada David membuatnya dengan cepat langsung merampas bingkisan ditangan Olive, bahkan sebelum gadis itu mempertahankannya.

“Aku yang akan memberikannya, sekarang tidak ada lagi alasanmu disini. Pergi,” usir Nita lagi “David sama sekali tidak mau bertemu denganmu,” lanjutnya dengan tegas.

“Kembalikan,” kata Olive sambil berusaha untuk meraih bingkisannya kembali, namun gadis itu malah mengangkat bingkisan ditangannya lebih tinggi. Mempertahankan untuk tetap berada ditangannya “Memangnya kamu tidak malu ya, untuk gadis yang katanya populer namun merapas barang milik orang lain,” tantang Olive berani. Nita langsung membulatkan matanya marah.

“Kamu...” ucap Nita sambil melayangkan tangannya siap menampar Olive yang menurutnya sudah keterlaluan, namun gadis itu dengan sigap langsung menahan tangan Nita dan membalas tatapan tajam gadis itu.

“Jangan pernah berfikir untuk melakukannya lagi,” ucap Olive tegas, kemudian mendorong Nita dengan menggunakan tangannya yang masih mencekal lengan gadis itu, tidak menyangka akan mendapat serangan balik membuat Nita yang masih kaget langsung terdorong dan terjatuh dilantai tanpa sempat mengimbangi tubuhnya.

“Olive, apa-apaan kamu...” tepat saat tubuh Nita mendarat dilantai terdengar suara teriakan dari belakang, kedua gadis itu langsung menoleh. Dan mendapati David yang melangkah mendekat, pria itu langsung berjongkok kearah Nita yang masih terduduk dilantai.

“David...” Ucap Nita yang langsung menunjukkan wajah memelasnya. Olive memutar bola matanya merasa eneg melihat adegan itu. Dengan segera David membantu Nita untuk berdiri kemudian menatap kearah Olive.

“Jadi begini cara kamu berkunjung ketempat orang lain?” tanya David terdengar sinis, tidak menyangka mendapat penolakan membuat Olive terdiam. Rasa sakit kembali menyelusup dalam hatinya.

“Katakan padaku, apa yang kamu lakukan?” Bentak David lagi “Bagaimana bisa kamu mendorong Nita seperti itu, memangnya apa kesalahannya? Aku benar-benar kecewa melihatmu,” lanjutnya kemudian saat Olive masih terdiam ditempatnya, bahkan nada suaranya terdengar lebih tinggi membuat Olive mati-matian menahan diri untuk tidak menangis.

“Kenapa kamu diam? Ayo jawab, apa yang kamu lakukan disini?” David mulai terdengar kesal, Olive menatap pria itu tanpa berkedip seolah berfikir apa yang sebaiknya ia lakukan. David cukup yakin kekecewaan juga terpancar dari mata gadis itu, namun tetap saja perasaannya kali ini sedang cukup kacau. Bahkan ia tidak bisa berfikir jernih, kekesalannya pada gadis itu tampak semakin bertambah karena Olive berada didepannya namun tidak bisa dimilikinya.

Olive mendengus sekilas, memutar bola matanya karena kesal atas reaksi David padanya. Kemudian gadis itu merebut bingkisan ditangan Nita yang tidak sempat mempertahankan benda ditangannya, dan tanpa suara menyerahkan bingkisan ditangannya kearah David, sengaja menggunakan tenaga lebih banyak untuk memukul perut pria itu, membuat David Refleks menerimanya.

Setelah memastikan David mendapatkan bingkisannya, Gadis itu menatap kearah matanya dan ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, kemudian ia menggeleng sekilas dan menghembuskan nafas berat lalu melangkah tanpa kata berbalik arah meninggalkan David, bahkan tidak perduli saat David berteriak menghentikannya, Olive merasa satu kata saja akan membuat air matanya mengalir didepan pria itu, dan jelas bukan sesuatu yang bagus.

David menjadi semakin frustasi, pria itu sama sekali tidak menyukai situasi ini. Rasa kesal bercampur rindu yang ia rasakan membuatnya tambah gusar, perlahan ia berlalu pergi, meninggalkan nita sendiri dan tidak memperdulikan saat gadis itu mengeluh kesal.

Mr Hero vs Mrs Zero


Olive yang masih tidak menyangka akan sikap David terus melangkah meninggalkan pergi, sedikit menyesali kenapa ia harus bela-belain untuk menghampiri pria itu. Bahkan harus merasa bersalah segala, melihat apa yang David lakukan padanya terasa benar-benar menyakitkan. Mungkinkah pria itu memang sudah tidak menginginkannya lagi? Mungkinkah memang rasa yang ia baru sadari itu terlambat? Tanpa bisa dicegah kali ini air matanya mengalir yang langsung diusapnya dengan kasar.

Sementara itu David menjatuhkan tubuhnya dikursi taman, hari ini cuaca terlihat cerah. Namun hatinya terasa berantakan. Pria itu menyandarkan kepalanya disandaran kursi dan menutup matanya. Seolah ingin menghilangkan beban yang mengganjal dihatinya. Nafasnya terasa sesak dan emosinya benar-benar tidak stabil. David menggunakan sebelah tangannya untuk diletakkan diatas keningnya, berusaha untuk menahan emosinya yang siap meledak kapan saja, sementara tangannya yang lain masih memegang bingkisan dari Olive.

Entah berapa lama pria itu berada dalam posisinya. Saat perasaanya sedikit terasa lebih baik, barulah David membuka matanya dan melirik kearah bingkisan disebelah tangannya. Pria itu terdiam sesaat. Dan dengan ragu membuka bingkisan berwarna jingga polos dan pita berbentuk bunga menghias diatasnya. Pandangannya terpaku pada isi hadiah yang diberikan Olive padanya, dan itu malah membuat beban yang ia rasakan semakin bertambah berat.

“Astaga, David... betapa bodohnya dirimu...” ucap David terdengar lelah, menyesali sikapnya sambil menyentuh sepasang sampul tangan berwarna hitam bergaris biru yang bearda dalam bingkisan ditangannya.

Ia masih ingat dengan sampul tangan yang pernah dimintanya pada Olive untuk dibelikan sebagai permintaan maaf, namun saat itu keberuntungan sedang tidak berpihak padanya karena mereka kehabisan disaat terakhir, dan kali ini Olive memberikan padanya. Kemudian matanya teralih pada secarik kertas bertulisan ‘Maaf’ yang juga berada dikotaknya, David semakin menyesali atas sikap buruknya.


David kemudian memperhatikan sampul tangan ditangannya yang baru disadari terdapat inisial ‘D’ dikiri dan kanannya, menandakan bahwa gadis itu menyempatkan diri untuk menyulam sampul tangan miliknya, tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah senyuman. Kali ini ia menyadari bahwa rasa yang ia punya pada gadis itu sama sekali belum menghilang, bahkan Olive berhasil menariknya lebih jauh lagi.


Satu minggu terakhir benar-benar terasa buruk, setelah baru pertama kali merasakan patah hati membuatnya terlihat menyedihkan, mungkin inilah balasan dari perlaukan buruk yang dulu sering ia lakukan, meskipun sudah mengabaikan pesan Olive, namun tetap saja ia masih menginginkan gadis itu. Dan setelah melihatnya tadi ia juga merasa senang, namun egonya membuat David harus bersikap buruk. Kini ia semakin menyesali sikapnya.

Sadar kalau ia sudah keterlaluan membuat David dengan cepat memasukkan bingkisan ditangannya kedalam tas sembarangan, dan dengan cepat bergegas pergi. Berharap kali ini mungkin Olive masih bisa menerima permintaan maafnya, gadis itu tidak boleh lepas lagi dari jarak pandangnya. Setelah kalimat menyakitkan Olive beberapa waktu lalu membuat David benar-benar menyadari kalau rasa sukanya pada Olive terlihat nyata, dan kini ia hanya perlu bergerak untuk mempertahankannya kembali.
Kepercayaan dirinya mulai muncul kembali...

Mr Hero vs Mrs Zero


Olive melemparkan tasnya sembarangan diatas tempat tidur, kemudian merebahkan tubuhnya dengan kasar, bahkan baju sekolahnya juga tidak membuatnya merasa repot harus menggantinya. Perasaannya masih kacau, namun sepertinya air matanya sudah lebih tenang karena tidak mengalir lagi. Ia sama sekali tidak habis fikir kenapa David tega memperlakukannya sekasar itu, namun sebagian hatinya justru malah merasa menyesal telah mengabaikan pria itu sebelumnya.

“Drritt...” suara getaran Hape disaku rok sekolahnya membuat Olive membuka matanya yang sebelumnya sempat terpejam. Gadis itu sengaja memberikan mode ‘Diam’ untuk hapenya karena tadi berada disekolah. Kemudian dengan sedikit malas ia merogoh sakunya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.

Nama David tertera dilayar ponsel, menandakan pria itu sedang menghubunginya, namun bukannya menjawab Olive malah melempar hapenya sembarangan. Getaran hapenya masih terdengar, setelah kemudian mati tanpa dijawab. Tapi belum beberapa lama justru kembali bergetar, dan Olive sempat melirik kelayar yang masih menunjukkan nama yang sama.

“Aku sama sekali tidak tau apapun,” ucap gadis itu yang akhirnya memutuskan untuk bangkit. Melangkah kekamar mandi dan meninggalkan ponselnya yang masih bergetar diatas kasur. Ia belum sanggup untuk menghadapi pria itu saat ini.

Bersambung ke Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 30 (Ending)

Detail cerbung Mr Hero vs Mrs Zero

Tidak ada komentar:

Posting Komentar