Cerpen cinta Love at first sight part ~ 08

Di sela-sela jam kantor waktu istirahat makan siang sempetin dulu buat posting kelanjutan cerpen cinta love at first sighn yang entah dari kapan tau enggak kelar-kelar ini.

Yah berhubung Daftar isi nya secara manual jadi kudu di tambahin lagi untuk updatednya. Dan yang udah penasaran sama kelanjutan dari cerpen ini langsung aja disimak, untuk yang lupa sama part sebelumnya klik aja disini.

Cerpen cinta Love at First Sighn part ~ 08
Cerpen cinta Love at First Sighn part ~ 08

Love at First Sighn


“Pulang sendiri?” tanya seseorang disampingku, aku menoleh dan mendapati David sedang duduk dimotornya tidak jauh dariku yang sedang menunggu angkutan umum untuk pulang kerumah, hari ini Revan sedang mengikuti latihan sepak bola dan akan pulang terlambat, sementara ibu baru saja telefon dan memintanyya untuk pulang lebih cepat.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku tanpa perlu menunjukkan wajah senang sedikit pun. Toh pria ini juga tidak akan perduli dengan apapun yang akan aku lakukan.

“Pacarmu mana? Bagaimana bisa dia membiarkanmu pulang sendiri seperi ini?” tanya David sambil turun dari motornya dan melangkah mendekat kearahku.

“Bukan urusanmu bukan?” balasku sinis agar sedikit terdengar formal, yang aku yakini itu tidak berpengaruh untuknya.

“Yahh setidaknya aku akan berterimakasih karena dia membiarkanmu untuk pulang bersamaku,” Jawab David sambil tersenyum manis, nah aku bilang juga apa. Pria ini sedikit pun tidak terganggu dengan kalimat dan nada bicaraku, jadi percuma saja untuk marah-marah dengannya.

“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku akan pulang denganmu,” balasku cepat.

“Oh ayolah, aku bukan anak kecil lagi. Kalau kamu tidak ingin pulang denganku, biar aku saja yang pulang denganmu, bagaimana?” tanya David dengan ide konyolnya. Sebelum aku sempat membalas, sebuah bus yang akan membawaku pulang berhenti didepanku, beberapa orang yang ikut menunggu di haltle memasuki nya, dan tentu saja aku tidak perlu untuk menjawab pertanyaan dari konyol dari pria itu dan melangkah memasuki bus berniat meninggalkannya.

Dan entah bagaimana bisa, saat aku duduk disalah satu kursi yang ada di bus itu, pria menjengkelkan itu juga duduk disampingku, kaget karena denganseenaknya ia mengikutiku dan dengan seenaknya juga duduk disampingku.

“Hei, apa yang kamu lakukan disini?” tanyaku sebel.

“Mengikutimu, tentu saja. Aku sudah bilang bukan, kalau kamu tidak mau pulang bersamaku, ya itu artinya aku yang harus pulang bersamaku. Tidak ada yang sulit,” jawab David dengan santai.

“Gila, bagaimana dengan motormu?” tanyaku sambil melongok keluar jendela mobil untuk melihat tepat ditempat motor yang tadi di tinggalkan David.

“Kamu yang membuatku gila, dan untuk motorku tenang saja. Aku tidak tinggal di planet pluto tanpa seorang teman,” Balas David dengan santai sambil menunjukkan layar hape nya yang sedang menelfon seseorang, aku menggeleng tidak habis fikir dengan apa yang ada dalam pemikiran pria itu.

Dan selagi aku diam tanpa suara, menebak apa yang ada dalam fikirannya, pria itu sendiri dengan santai mengatakan pada orang yang di telefonnya untuk menjemput motornya yang ada di haltle tidak jauh dari sekolahnya. Terlihat jelas, bahwa pria ini bukan salah satu pria yang bisa ia dapatkan dengan mudah, ralat. Bukan pria yang bisa ia abaikan dengan mudah.

Mungkin memang sebaiknya diam dan mengabaikannya adalah pilihan yang tepat, setelah berfikir demikian, aku langsung memasang handset ketelinga dan menyenderkan kepalaku di sisi jendela, perlahan menutup mataku. Lebih baik aku mengabaikannya saja, entah tindakan apa lagi yang akan pria itu lakukan untuknya.

Perlahan aku merasakan seseorang yang menutupi tubuhku dengan sesuatu dan sebelah mataku mengintip dari balik kepala yang bersender di jendela, tampak David yang masih duduk disamping ku dengan handphone ditangan dan tubuhku tertutupi jaket miliknya, tidak mau berdebat aku hanya terdiam dan membiarkan, ternyata baik juga ini anak fikirku dalam hati.

Love at First Sighn


“Apa yang kamu lakukan disini sendirian?” pertanyaan dari arrah samping itu membuat ku menoleh kaget kearah suara, Revan menyodorkan air mineral kearahku dan tersenyum lembut. Aku membalas senyumannya dan menerima air yang disodorkan kearahku.

“Tidak ada, hanya menghabiskan waktu istirahat saja,” jawabku sekenanya, Revan duduk disampingku dan saat ini aku memang sedang sendiri, karena sahabatku sendiri sedang libur. Sepertinya akhir-akhir ini, aku jarang melihatnya. Apakah sakit yang dideritanya parah.

“Emm, bagaimana dengan David, apakah dia masih mengganggumu. Aku dengar, sekolah mereka tidak jauh dari sini, dan kemarin sepulang sekolah dia mengikutimu sampai dirumah. Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu karena ada latihan sepakbola, minggu nanti ada pertandingan persahabatan dengan sekolahnya,” kata Revan tampak merasa bersalah.

“Yaahh, aku tidak heran bagaimana kamu bisa tau. Secara cowok sepopuler kamu tentunya punya banyak menggemar, dan aku bisa menebak dengan pasti apa yang....”

“Aku percaya padamu,” potong Revan sebelum aku menyelesaikan ucapanku, dan dia mengatakan dengan sangat cepat sehingga aku sendiri langsung menatap kearahnya, entah itu memang percaya atau karena ada sesuatu yang ia sembunyikan, tapi melihat dari tatapan tulus yang ia berikan, aku percaya kalau dia memang mempercayaiku.

“Yahh, aku berniat menunggumu selesai bermain, tapi tiba-tiba ibuku menelfon dan memintaku untuk segera pulang lebih cepat, dan saat aku sedang menunggu angkutan umum, David datang menawarkan tumpangan, aku menolaknya dan lebih memilih menggunakan angkutan umum, dan sama sekali tidak menduga kalau pria itu nekat meninggalkan motornya dan mengikutiku menaiki angkutan umum hingga didepan rumahku,” jawab ku sambil menunduk sendikit merasa bersalah.

“Aku senang karena kamu baik-baik saja,” ucap Revan tulus, aku menoleh menatap kerahnya dan tampak senyuman revan membuatku merasa lebih baik, aku tentu saja makin menyukai pria ini. Benarkah jika dia juga merasakan hal yang sama untukku? Pertanyaan itu entah kenapa sering menghantuiku akhir-akhir ini, bagaimana bisa pria sepopuler Revan bisa mengatakan kalau ia menyukaiku.

“Terimakasih, dan aku lebih senang karena kamu bersamaku saat ini,” balasku sambil tersenyum “Terimakasih karena percaya kepadaku,” lanjutku.

“Tentu saja, aku akan mempercayaimu. Dan jangan berfikir aku tidak kesal, aku kesal pada pria itu dan berjanji akan membalasnya,” kata Revan dengan nada serius, aku langsung menoleh kaget kerahnya, dia tidak bermaksud untuk melukai David bukan?

“Mem... balasnya?” tanyaku kaget.

“Emm, iya. Aku akan membalasnya dengan memenangkan pertandingan persahabatan nanti, aku dengar dia juga salah satu pemain sepak bola,” jawab Revan yang membuatku menghembuskan nafas lega, dan lagi. Untuk kesekian kalinya, aku yakin pilihanku mennyukai pria ini tidak salah. Bahkan ia bisa bersikap dewasa, berbanding balik dengan sikap kekanak-kanakan yang David lakukan, benar-benar berbanding balik.

To be continue

Berlanjut ke cerpen cinta love at first sight part 08

Detail cerpen Love at First Sighn

1 komentar:

Anis Lestari mengatakan...

Waaah.... sengaja baca di tengah, untuk lihat kisahnya.. dan bener aja, jadi penasaran untuk baca dari awal.. :)

Posting Komentar