Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero ~ 10

Ehem, masih dengan tema yang sama nih admin bawain Cerbung romantis Mr Hero vs Mrs zero part 10 dan kali ini muncul tokoh baru yang sepertinya mendadak otak ini berimaginasi luas sebagai tokoh cerbung selanjutnya. Itu juga kalau fikiran singkron sama ide.

Ah udahlah nggak perlu kebanyakan ngalor ngidul nggak jelas, langsung diread aja dan jangan lupa juga buat lirik part sebelumnya ya Cerbung romantis Mr Hero vs Mrs Zero ~ 09.

Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero ~ 10
Mr Hero vs Mrs Zero 

Mr Hero vs Mrs Zero


“Loe yakin udah izin beneran sama bokap gue?” tanya Olive saat mereka sudah duduk disalah satu meja kafe.

“Aman itu mah, kalo urusan minta izin gue udah ahlinya. Mana bisa gue ajak anak gadis orang maen nyelonong aja, loe terlalu ngeremehin kemampuang gue,” balas David bangga.

“Bokap gue galak lohh,” Olive masih tidak percaya.

“Dasar anak durhaka loe, Bokap sendiri dikatain galak...” ucap David yang langsung membuat Olive cengengesan, dan sebelum ia balas menjawab ucapan pria itu seorang pelayan menghampiri sambil menyerahkan buku menu.

“Rekomendasi disini apa mbak?” tanya Olive langsung.

“Ada bebek panggang mbak, Menu baru disini boleh dicobain,” ucap sang pelayan ramah.

“Ya udah saya pesen itu deh satu, sama Es Milo nya satu ya,” ucap Olive lagi.

“Samain deh mbak,” kata David yang tadinya sedang melirik buku menu langsung menutupnya kembali. “Tambah Tahu buletnya aja satu porsi ya, ah sama kangkung tumisnya juga satu,” lanjut David, kemudian si mbak pelayan menyebutkan kembali pesanannya sebelum kemudian berlalu pergi.

“Apakah ini pertama kalinya loe makan diluar malem?” tanya David setelah beberapa saat.

“Emm, enggak juga. Ngomong-ngomong loe sering keluar malam Cuma buat makan doang?” Olive balik bertanya, sengaja menghindari pertanyaan yang ia tau akan dilanjutkan kemana.

“Kalau Cuma buat makan doang sih enggak, tapi kalau keluar malam sering. Lagian mau ngapain coba gue dirumah, nggak lucu banget kan anak muda keren kayak gue Cuma suntuk dikamar doang, emangnya gue lagi dipingit,” jawab David panjang lebar, Olive mengangguk mengiyakan walau sekadar basa-basi ia sendiri berfikir dalam diam kenapa ada cowok yang seramah ini, kalau nggak sopan dibilang bawel.

“Ngapain?” tanya Olive sepintas lalu.

“Banyak, loe tertarik buat dengerin? Gimana kalau kita sering keluar bareng aja biar loe ngamatin sendiri?” balas David dengan senyum terkulum, Olive mencibir mendengarnya, dasar pria penggombal. Ia tau benar akan hal itu, namun Olive lebih memilih tidak menanggapinya.

“Abis ini kita mau kemana?” tanya Olive mengalihkan pembicaraan tepat saat sang pelayan membawa pesanan mereka, obrolan tentang akan kemana pun terhenti dan setelah mengucapkan ‘Terimakasih’ kepada sang pelayan mereka mulai menikmati makan malam dengan diam.

“Gue anak motor, kalau loe mau tau,” ucap David setelah beberapa saat menyelesaikan makannya.

“Geng motor yang kalau pake motor itu berisik banget berasa jalanan punya milik sendiri?” tanya Olive langsung kemudian dalam hati ia menyetujui kalau orang seperti David memang anak motor.

“Eits, janga salah. Gue bukan salah satu Geng motor, kita hanya sekumpulan anak Club motor yang baik,” jawab David memberi pembelaan.

“Apa bedanya?” tanya Olive langsung.

“Banyak. Loe jangan salah, Club motor lebih ngutamain keselamatan dibanding apapun, dari pada orang-orang yang diluaran sana. Kita lebih mendesain motor untuk keselamatan, dan semua peraturan yang memang harus ada disetiap pengendara kita itu ada. Dan tentu saja, setiap berkeliling kita tetap mematuhi aturan yang ada, bukan sekadar hura-hura nggak jelas,” cecer David merasa sedikit tersinggung, Olive membalas dengan anggukan sekenanya, entah memang setuju atau hanya sekedar basa basi.

“Gue bawa loe ikut ngelihat hari ini ya, biar loe bisa buktikan sendiri. Gimana?” tanya David yang membuat Olive berfikir sesaat, kemudian ia melirik jam ditangannya.

“Boleh, asal jam 10 gue sudah ada dirumah,” jawab Olive setelah melirik jam yang menunjukkan pukul 20:17 wib.

“Aman,” jawab David penuh semangat dengan senyum misteriusnya. Yakin kalau ia bisa membuat pandangan gadis itu tentang club motor sedikit berubah. Bagaimanapun juga, ia tidak ingin dianggap buruk oleh gadisnya.

Mr Hero vs Mrs Zero


David meletakkan tasnya diatas meja dan mendudukan tubuhnya disalah satu kursi panjang tepat disamping seorang gadis yang sedang menikmati camilannya, keripik kentang dengan menodong stoplesnya, gadis itu melirik saat David mengeluarkan handphone dari saku celananya kemudian meletakkannya diatas meja, dan dengan seenaknya merebahkan kepalanya tepat dipangkuan gadis disampingnya.

“Apa-apaan ini?” Protes Naila namun tidak menunjukkan keberatan sama sekali dengan tingkah David yang memang sudah menjadi kebiasaan saat mengunjungi rumahnya.

“Diem dulu. Gue mau istirahat,” ucap David dengan mata terpejam, Naila memutar bola matanya kesel, kemudian meletakkan stoples yang tadi ditangannya keatas meja, tak lupa juga diambilnya tissue untuk mengelap tangannya yang sedikit berminyak.

“Gue nggak pernah ngelarang elo buat istirahat tuh, nggak harus disini juga kan? Rumah gue kurang besar apa?” keluh Naila yang lagi-lagi tanpa ada niatan sama sekali untuk mengusir David dari pangkuannya.

“Gimana sih buat cewek jatuh cinta?” tanya David yang mengabaikan keluhan Naila dan malah seenaknya sendiri membelokkan haluan percakapan diantara mereka.

“Loe nggak lagi naksir gue kan?” tembak Naila langsung.

“Tenang, gue masih waras. Jadi jawabannya tentu enggak,” jawab David santai.

“Si*lan loe,” keluh Naila sebel sambil mendorong David dan membuat pria itu jatuh dari pangkuannya, bukannya marah David malah tertawa ngajak, kemudian memperbaiki posisinya kembali dipangkuan gadis itu.

“Lagian gue masih sayang sama nyawa gue kali, loe tau kan meskipun Zitto itu cuek dia tetep menyeramkan kalo pas marah. Bisa dihajar habis-habisan gue kalo sampe berani ngerbut pacarnya,” David mencoba bela diri.

“Alasan diterima, bagus kalau loe masih sadar diri. Ya abis, sejak kapan Playboy kelas kakap kayak loe nanyain ke cewek setia kayak gue gimana caranya bikin cewek jatuh cinta?” ucap Naila tanpa rasa berdosa.

“Nah itu, ini nih kebanyakan makan singkong makanya lemot. Loe kan ngakunya cewek setia, tentu saja gue harus tanya sama loe biar tu cewek cinta mati sama gue,” balas David dengan bangganya.

“Cinta hidup, emangnya loe mau cinta sama orang mati. Ah tapi bagus juga pujian loe, gue jadi lebih semangat ngejawabnya,” ucap Naila sambil tersenyum senang, David mencibir dalam hati, tau banget ulah sahabatnya yang satu ini, gampang banget dimintai tolong kalau sudah mendengar pujian.

“Jadi gimana caranya ngedeketin dia?” tanya David langsung.

“Yaelah, tinggal loe duduk aja disampingnya. Udah, kalian pasti berdekatan,” jawab Naila langsung yang dengan cepat mendapat tatapan Tajam dari David, jawaban asal dari mana itu. Yang ditatap malah cengengesan tanpa dosa.

“Loe udah bosen hidup ya?” tanya David dengan nada tenangnya, tanda bahwa pria itu sudah mencoba menahan emosi yang bisa meledak kapan saja.

“Belom, gue masih muda. Nikah aja belom eh ditanya udah bosen. Lagian loe kayak bukan ahlinya aja sih ngedeketin cewek aja tanya sama gue,” kilah Naila.

“Habisnya ini cewek ajaib banget, masa iya dia sedikit pun nggak pernah tertarik sama gue, hampir satu bulan gue deketin masih aja nggak ada kemajuan, terakhir bareng dia pas malam minggu lalu, abis itu diajakin lagi susah banget. Apa gue culik aja kali ya?” tanya David sambil pasang pose mikir yang dengan cepat toyoran lagi-lagi membuatnya terjatuh, emang kalau fikiran udah nggak singkron sama hati begitu tuh, suka ngasal kalau ngomong.

Dengan mecoba menahan emosinnya, David kembali memperbaiki posisinya dipangkuan Naila, dan meluncurlah kalimat demi kalimat tentang beberapa waktu lalu, betapa susahnya ia menaklukkan seorang gadis bernama Olive yang semakin membuatnya kesal setengah mati hidup. Tak lupa juga bermacam-macam bumbu ditambahkannya untuk lebih mempermenarik ceritanya.

Diselingi dengan cekikikan dan beberapa tanggapan dari Naila, membuat waktu yang berjalan terasa singkat, David mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas kesal sementara Naila tertawa semakin kencang, berbanding balik dengan suasana hatinya yang susah dijelaskan, kesal dan marah bercampur menjadi satu.

“Akhirnya ada juga cewek normal yang nolak pesona loe, kayaknya tu orang cocok sama gue, boleh deh kapan-kapan kita dikenalin,” komentar Naila setelah puas menertawakan penderitaan David.

“Gue mulai menyesali memutuskan buat cerita sama loe,” ucap David sendiri seolah pada dirinya sendiri namun sengaja agar Naila mendengarnya.

“Abisnya ini kejadian langka banget, memangnya siapa lagi cewek yang nggak tertarik sama loe setelah dideketin kecuali gue, sebentar gue perlu update dulu ke kak Zitto nih,” balas Naila tanpa rasa bersalah dan jari-jarinya langsung menari dengan lincah diatas keyboard hapenya menandakan ucapannya bukanlah sekedar basa-basi, sepertinya ini memang berita tak terlewatkan untuk mereka berdua. Dan David semakin berfikir apakah ia meamng salah datang kesini.

“Loe niat bantuin gue nggak sih?” tanya David mencoba lebih bersabar dengan menahan emosinya yang semakin menumpuk.

“Kalau gue nggak salah alias bener cowok jatuh cinta karena cemburu kan?” tanya Naila mulai terdengar serius dengan handphone yang masih ditangan.

“Cemburu?” David masih belum mengerti.

“Iya, kalau cewek udah bisa bikin cowok cemburu itu tandanya ia berhasil buat itu cowok dalam waktu yang bersama jatuh cinta dengannya,” lanjut Olive menjelaskan sambil meletakkan handphonenya diatas meja.

“Entahlah, gue kurang tau tentang itu, karena gue sendiri nggak pernah jatuh cinta. Tapi dengan pengalaman loe sama Zitto gue setuju, tuh anak juga akhirnya jatuh cinta sama loe bikin dia cemburu dengan bantuan gue kan?” balas David sambil mengingat.

“Tepat, paling nggak sebagian besar cowok bakal jatuh cinta sama cewek kalau dia ngerasa cemburu tuh cewek deket sama cowok lain. Tapi cewek beda,...” ucap Naila sengaja menggantung.

“Apa?” tanya David langsung.

“Rasa bersalah,” jawab Naila bangga seolah berhasil memecahkan 50 soal matematika dalam waktu 5 detik “Loe cukup bikin tu cewek ngerasa bersalah, dan gue jamin dia bakal langsung mikirin loe 24 jam dalam sehari, be always dan nggak mungkin enggak,” lanjutnya. David terdiam sesaat dan mulai berfikir, beberapa kejadian lalu yang sempat dilaluinya dengan Olive, dan matanya terbuka lebar saat ia menemukan jawabannya, pria itu langsung mendudukan tubuhnya dengan semangat dan menatap Naila antusia.

“Binggo,” ucap Naila sambil menunjuk David dengan tepat dan mengedipkan sebelah matanya seolah tau akan reaksi David “Buktinya kalian lebih dekat dan dia mulai bisa diajak makan malam bareng setelah dia ngerasa bersalah sama loe, gue yakin dia bahkan nggak tahan dengan fikirannya sendiri yang terus ngebayangin elo selama elo menjauhinya,” lanjut Naila menyuarakan apapun yang ada dalam benak David yang dengan cepat membuat David tersenyum sumringah mengetahui jawaban yang ia inginkan namun secepat kecerahan itu muncul secepat itu juga wajahnya kembali murung.

“Jangan tanya sama gue gimana caranya, gue juga nggak tau,” kata Naila yang lagi-lagi sebelum David sempat menyuarakan fikirannya “Dan seandainya juga gue tau, gue nggak bakal ngasi tau sama loe. Sebelum elo mastiin kalau loe udah jatuh cinta juga sama dia, ah tapi gue sangsi kalau playbos kayak loe bisa jatuh cinta,” lanjut Naila yang membuat David terdiam, cukup lama. Kemudian ia mengatakan kalimat yang mampu membuat mata Naila terbuka lebar dan nggak menyangka kalau kalimat itu bisa keluar dari mulut David setelah pembahasan tentang kisah cintanya.

“Gue laper,”
#Gubrak


Bersambung ke Cerpen romantis Mr Hero vs Mrs Zero part 11

Detail cerbung Mr Zero vs Mrs Zero

1 komentar:

nora fitria mengatakan...

Keren cerpen nya ....kpan ne kluar lanjutannya

Posting Komentar