Cerpen Galau Cintaku Begini Akhirnya

Entah karena suasana yang lagi emang nggak enak, atau hanya karena fikiran yang memang sangat tidak mendukung buat ngelanjutin cerpen yang ada, dari pada ngancurin cerpen cinta sweety heart mending bikin cerpen selingan yang tentu nya ancur banget, seancur perasaan admin saat ini.

Serialnya cerpen galau, judulnya Cerpen galau Cintaku begini akhirnya. Udah jelas banget kan enggak bakalan happy ending. Tapi buat yang tetep ngotot pengen tau ceritanya. Langsung saja cek kebawah...

Cerpen Galau Cintaku Begini Akhirnya
Cintaku Begini Akhirnya

Cintaku Begini Akhirnya


Airil melangkahkan kakinya meninggalkan sebuah gedung yang ia sendiri tau adalah tempat paling ramai yang sama sekali tidak bisa dijadikan tempat untuk menyejukkan suasana hatinya yang memang sedang buruk. Entah kenapa memang sudah banyak yang salah dengan hari ini, mulai dari tadi pagi hingga kini yang waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 wib. Waktu yang pas untuk dijadikan saat menggalau. Yahh setidaknya itu lah yang ia rasakan saat ini, benar-benar membuat langkahnya sedikit melambat meski itu membuat beberapa orang yang berada dibelakangnya menatapnya sebel dan melangkah mendahuluinya, bagaimana pun berjalan perlahan dengan tatapan tidak fokus ditempat yang ramai bukanlah pilihan yang tepat. Namun sepertinya Airil juga tidak memikirkan dan mempermasalahkan hal itu sama sekali.

Terbukti dengan langkahnya yang sama sekali tidak dipercepat. Dan sekekali terdengar hembusan nafas panjangnya. Harinya memang sudah kacau sejak ia bangun tadi pagi, mulai dari bangunnya yang kesiangan, masakan yang ia masak gosong, diomelin karena nggak ngerjain pr disekolah, ketinggalan angkot pulang, tidur siang yang gagal karena harus ngerjain hukuman mencatat makalah karena lupa ngerjain pr dan yang lebih parahnya harus dikerjakan pakai tulisan tangan sendiri belum lagi karena itu makalah juga terdiri dari banyak halaman. Lalu masih ditambah dengan harus belanja karena semua persediaan makanan sudah habis, ia dia anak kost dan harus menjalani semuanya sendiri.

Harinya sudah benar-benar buruk tanpa harus ditambah dengan kejadian yang baru saja terjadi, putus dari pacarnya. Baru saja terjadi dan membuat semua semangatnya menguap begitu saja. Hilang tanpa berbekas lagi, entah kenapa semua yang ia lakukan kembali terasa salah, entah memang sudah takdir nya atau memang semua keberuntungan tidak sedang berpihak padanya. Hingga membuat semua yang ia lakukan harus separah ini, benar-benar hari yang ia akan mengutuk seumur hidup sebagai hari paling sial dalam hidupnya.

"Bagaimana kalau kita akhiri saja hubungan ini?" pertanyaan itu masih terngiang jelas diingatannya, iya kalimat yang ia lontarkan sendiri kepada pacarnya, yang tentu saja sekarang sudah resmi jika dibilang mantan.

"Maksudnya?" tanya Reihan minta penjelasan.

"Iya, kita putus saja. Aku sudah mulai merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap mu beberapa hari ini," jawab Airil menegas kan apa yang ia ucapkan sebelumnya.

"Ohh, baiklah. Jika itu yang kamu inginkan. Aku tidak pernah memaksakan seseorang untuk bersama ku, jika memang kamu tidak nyaman. Kamu boleh pergi dan mencari seseorang yang bisa memberikanmu kenyamanan," jawaban Reihan membuat Airil menatapnya kaget, tidak menyangka jika kalimat itu yang ia dengar kan sebagai jawabannya. Terus terang saja, dia sebenarnya tidak ingin mengatakan hal itu. Namun kalimat itu sudah terlanjur ia katakan, dan tentunya ia tidak bisa mundur lagi sekarang.

"Jadi kamu juga menginginkannya? Yahh, aku memang benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikapmu sekarang, emangnya kamu tidak berusaha untuk memperbaikinya ya?" tanya Airil dengan nada kecewa yang sangat ketara.

"Aku minta maaf, tapi memang begini lah sikap ku sekarang. Kamu bisa menerimaku dengan keadaan ini, atau kamu boleh meninggalkan ku untuk mencari kenyamanan pada pria lain," jawab Reihan yang membuat Airil menatapnya dengan pandangan lesu.

"Ternyata kamu memang sama sekali tidak berusaha untuk menolak bukan?" kata Airil yang sepertinya ditujukan untuk dirinya sendiri, namun karena saat ini ia sedang bersama seseorang. Tentu saja, kalimat itu akan terdengar sebagai pertanyaan untuk lawan bicaranya.

"Lalu, apakah kamu berharap aku akan mengemis-ngemis cinta untuk tidak diputuskan oleh mu? Aku hanya melakukan apa yang sepantasnya aku lakukan. Kamu sendiri yang sudah tidak nyaman bukan?" balas Reihan dengan ekpresi yang Airil sendiri tidak tau apa maksudnya, entah memang itu yang ia ingin kan atau itu hanya caranya untuk melepaskan diri.

"Aku juga tidak berharap sampai sejauh itu, hanya saja aku merasa ini terlalu cepat jika harus menyesal. Aku tidak akan menarik kata-kataku lagi, tenang saja. Aku hanya ingin mengatakan, bahwa mungkin memang benar kamu juga menginginkan hal ini, karena kamu sama sekali tidak menolaknya," kata Airil dengan tatapan sedih.

"Aku tidak akan menolak saat diputusin cewek Airil, seberapa cintanya aku pun pada gadis itu," jawab Reihan sambil melipat kedua tangannya diatas meja.

"Aku tau kamu tidak seperti itu, aku sudah lama mengenalmu. Dan sejauh ini, kamu tidak pernah menerima saat aku mengatakannya, dan aku ingat benar apa yang kamu katakan padaku. Saat kamu menolaknya, itu artinya kamu mencintaiku dan masih ingin bertahan denganku. Jadi, berhubung jawaban ini yang ternyata aku dengar sekarang. Sudah jelas kalau kamu juga menginginkan hal yang sama bukan?" balas Airil sambil menunduk, Reihan yang berada didepannya menghembuskan nafas panjang dan terdiam beberapa saat.

"Mungkin kali ini keadaan sudah berbeda, aku tidak akan melarangmu jika kamu akan pergi. Karena sampai saat ini pun, kamu tidak akan pernah tau apa yang aku rasakan sebenarnya bukan? Kamu tidak pernah tau perasaanku yang sesungguhnya," kata Reiahan setelah lama terdiam.

"Emm, kamu benar. Aku memang tidak tau sama sekali tentang apa yang kamu rasakan dan bagaimana perasaanmu, karena kamu tidak pernah berusaha untuk memberikan ku kesempatan untuk mengetahuinya. Kamu tau, ada beberapa hal yang tidak bisa dilihat tanpa kata-kata. Maksudku, perasaan manusia itu tidak bisa ditebak dengan benar," kata Airil berusaha untuk membela diri.

"Kalau memang demikian, aku mengatakan. Aku tidak melarangmu untuk meninggalkanmu saat kamu sendiri tidak nyaman dengan keadaan ini," kembali Reihan memberikan jawabannya. Airil menahan sesak didadanya dan berusaha menahan air mata yang menerobos keluar dari kelopak matanya, tidak. Ia tidak akan menangis, dan ia juga tidak akan menyesali keputusannya. Tapi, meskipun begitu. Nafasnya terasa sesak dan tidak bisa berfikir jernih.

"Sepertinya kamu juga sudah sangat ingin untuk pergi, kalau begitu aku tidak akan menghubungi mu lagi. Maaf sudah mengganggu dan menghabiskan waktumu," balas Airil kemudian, Reihan masih menatap Airil yang masih menundukkan kepalanya.

"Kalau memang itu akan membuatmu merasa lebih baik. Baiklah," jawab Reihan sambil mengangguk, entah karena faham atau memang itu adalah gayanya.

"Karena ini keputusan bersama, dan sepertinya kamu juga menginginkannya. Aku melepaskanmu, bagaimana pun. Aku sudah tidak nyaman dengan sikapmu sekarang, dan sepertinya kamu juga tidak melakukan apapun untuk memperbaikinya," kata Airil dan berusaha untuk menegakkan kepalanya kembali, Reihan menatapnya dalam diam. Dan untuk beberapa saat tidak ada kata yang keluar.

"Emm, baiklah. Mulai sekarang, kamu urus urusanmu, dan aku akan mengurus urusanku sendiri. Selamat tinggal, dan semoga kita bisa bertemu kembali. Terimakasih," ucap Reihan sebelum akhirnya meninggalkan Airil sendiri, bahkan tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Ia malangkah tanpa menoleh sedikit pun, Airil terus memperhatikan kepergian Reihan dengan pandangan tersiksa sampai pria itu hilang dari pandangan. Dan setelah Reihan benar-benar pergi, Airil merebahkan kepalanya diatas meja, ia seolah kehilangan semangatnya bahkan untuk sekedar berdiri.

Masih dengan langkah gontai, Airil melangkahkan kakinya berjalan pulang. Keramaian Nagoya hill dan berbagai macam hiasan natal yang terpajang serta berbagai jenis orang yang berkeliaran disekelilingnya dengan kesibukan sendiri sama sekali tidak membuatnya terganggu. Ia benar-benar merasa bahwa kegelapan tercipta, ia merasa bahwa hanya ada dia sendiri, dengan keadaan yang benar-benar tidak bisa dikatakan bahagia.

Ini sangat jauh dari kata bahagia, bukan ini yang dia inginkan sebenarnya. Sama sekali tidak, memang ia tau ia lah yang mengatakannya. Ia lah yang memutuskan pria itu, tapi ia tau itu adalah keputusan paling tepat yang bisa ia ambil. Bagaimana pun, sikap Reihan sudah menunjukkannya. Bahwa ia juga mengingnkan hal itu. Beberapa hari ini juga ia merasa bahwa pria itu semakin jauh dari jangkauan yang bisa ia rengkuh, komunikasi yang tidak berjalan stabil dan pertemuan yang bahkan jarang sekali terjadi.

Perlahan, Airil menyentuh bagian dada kirinya, sakit. Dan terasa sesak, mungkin ia memang akan meninggalkan segala kenangan yang pernah terjadi sebelumnya. Atau mungkin rasa sakit itu karena ia masih mencintai pria itu, entahlah. Ia juga tidak tau apa yang ia rasakan sebenarnya, tapi dalam hati ia terus berujar bahwa ia tidak akan menyesali keputusannya, ia sudah bersikap cukup baik dengan mempermudah segalanya. Dia juga tidak harus bertahan dengan orang yang tidak berharap untuk dipertahankan bukan?

Tidak perduli, seberapa cinta yang ia rasakan pada pria itu. Tapi ketidak nyamanan yang diberikan pria itu beberapa hari ini mampu membuatnya mengatakan hal itu akhirnya. Yahh, setidaknya pria itu tidak berusaha untuk menahannnya bukan? Atau pria itu juga tidak berniat untuk memperbaiki sikapnya. Jadi ia sama sekali tidak punya alasan untuk menyesal, sama sekali tidak ada. Ini adalah keputusan paling benar yang bisa ia lakukan sekarang.

"Satu-satunya penyesalan yang aku rasakan sekarang hanyalah, sampai akhir pun aku tidak bisa membuatnya menatapku. Sampai akhir pun dia tidak bisa bertahan untuk hanya mencintaku saja. Selain itu, aku tidak akan menyesali keputusan ini," kata Airil menguatkan hatinya, setidaknya ia sudah melakukan sesuatu yang benar saat ini. Entah cinta seperti apa yang ia rasakan, yang jelas ketidak nyamanan sama sekali bukan hal yang tepat untuk dipertahankan. Bertahan dengan orang yang sama sekali tidak ingin dipertahankan bukanlah keputusan yang benar.

Dan pria itu pasti akan menemukan orang yang bisa ia buat nyaman. Walau kalau masih boleh jujur, ia masih sedikit berharap bisa bersama pria itu lagi. Keputusannya untuk mengakhiri ini hanya karena ia tidak tahan dengan sikap pria itu beberapa hari ini. Ia hanya tidak tahan karena merasa kesepian, dan ia tau benar. Pria itu juga merasakan hal yang sama, untuk itu lah ia mengambil keputusan ini sebelum apa yang sama-sama mereka rasakan menjadi sebuah kebencian. Ia harus mengambil keputusan untuk itu.

Walau harapan awalnya mengatakan hal itu hanya agar pria itu memutuskan untuk memperbaiki sikapnya, namun sepertinya harapan hanya lah tinggal harapan. Karena tidak semua yang direncanakan sesuai harapan bukan? Dan akhirnya, setelah lama ia menahan. Satu titik air mata jatuh dari matanya, kenangan terakhir yang ia punya untuk pria itu adalah perjanjian yang ia katakan sendiri "Berjanjilah untuk saling bertahan" hanya kalimat itu yang terus muncul diingatannya, kalimat yang ia katakan sendiri dan membuatnya tertawa sinis.

Entah tertawa karena atau ada yang lucu atau menertawakan dirinya sendiri, sepertinya semua memang tidak sesuai dengan apa yang ia rencarakan. Dia sudah bertahan untuk menerima sikap itu beberapa hari ini, namun sepertinya ia tidak tahan untuk melakukan itu lebih lanjut. Ia tidak bisa bertahan karena merasa terabaikan, dan ia bahkan merasa bahwa pria itu sudah mengaggapnya tidak sepenting dulu. Sebagai dirinya, ia tau bahwa hal itu bukanlah salahnya, ia sudah berusaha untuk bertahan, ia juga sudah berusaha untuk mengatakan bahwa ia tidak nyaman dengan sikap itu berharap pria itu memeperbaiki sikapnya. Namun sepertinya hal itu tidak terjadi, untuk itu bagaimana ia bisa bertahan dengan orang yang sama sekali tidak ingin dipertahankan.

Dan ia juga tidak menyalahkan Reihan tentu saja, sejak awal dia hanya mengikuti saja. Saat dirinya memilih pacaran, saat dirinya menjanjikan untuk bertahan dan saat ini pun untuk melepaskan. Sebagai seorang pria tentu saja ia merasa gengsi untuk menolak bukan? Terlebih, mungkin memang semua yang dia lakukan belum bisa membuat gadis itu percaya kalau dia sudah mencintaninya. Jadi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti permintaan gadis itu dan melepaskannya. Bagaimana pun kepercayaan adalah nomor satu, sementara kenyamanan tidak bisa dipaksakan bukan?

"Huuffhh..." Airil menghembuskan nafas panjang. Sedikit demi sedikit penyesalan menyusup kedalam hatinya, namun keputusannya sudah tidak bisa ia tarik kembali. Ia tidak mungkin menahan pria itu lebih lama lagi, dan ia benar-benar tidak bisa bertahan dengan sikap itu. Merasa diabaikan oleh orang yang dicintai bukanlah hal yang harus ia rasakan setiap hari. Dan ia harus membuang jauh-jauh semua kenangan menyakitkan yang pernah terjadi, dan berusaha untuk menyakini bahwa ini adalah keputusan paling benar yang ia ambil. Ini adalah keputusan paling tepat untuk mempermudah semuanya.

"Orang bilang, mengejar sesuatu yang pernah hilang lebih sulit dari pada mendapatkannya dari awal kembali. Namun, bagaimana jika sejak awal memang tidak pernah ada yang dimiliki," Bisik hati Airil pelan. Mungkin memang sejak awal cinta yang Reihan punya hanya hayalannya saja, hayalan yang ia harap menjadi kenyataan namun tidak sesuai keadaan. Mungkin memang harus melepaskan yang tidak pernah bisa dimiliki, dan menjalani hidup sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain.

Ia benar-benar bisa menobatkan hari itu akan menjadi hari paling buruk dalam hidupnya, dan ia harus bisa memastikan keadaan buruk ini tidak boleh terus bertahan lama. Mungkin boleh lah untuk menggalau beberapa hari, namun itu tidak boleh bertahan lama, bagaimanapun ia tidak bisa memikirkan orang yang tidak tau apa kah masih memikirkannya atau tidak. Dan keputusan yang diambil juga tidak akan menyakiti pria itu. Yang terpenting, dia masih bisa bertahan dengan kenangan yang pria itu berikan untuknya. Hidup dengan kenangan yang ada, sama hal nya dengan hidup hanya dengan hayalan bahwa pria itu mencintanya. Setidaknya dia sudah bersaha sebaik mungkin sejauh ini.

Ending.

Gimana-gimana-gimana? nyesek kan? sad ending kan? Ahahaha nah admin juga udah bilang kan? Berhubung kayaknya admin juga lagi galau berat, jadi nular deh ketulisan-tulisannya. Hohoho... Over all, see you next time ia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar