Cerpen Cinta My Idola ~ 03

Jreng jreng jreeeeenggg... Cerpen cinta My Idola Muncul dengan gaya yang sok dibuat-buat. Hahaha... Benar-benar diluar kendali semuanya... Memang susah ya kalo melakukan sesuatu pake jadwal, pasti adaaa ajja hambatannya. Seperti cerpen ini nih, yaa akhirnya dengan memaksakan diri akhirnya muncul juga kepermukaan. Hehe Admin yang cantik ini memang sok sibuk mulu kerjanya. #Narsis_Kan_Nggax_Dosa Kwekwekwek...

Baiklah, dari pada curcol ga jelas, mending langsung keceritanya saja lah yaa... untuk yang udah lupa sama part sebelumnya, bisa diliat lagi disini Cerpen cinta "My Idola Part ~ 02". Over all, Happy reading ajja yaa....



Cerpen Cinta My Idola ~ 03


“Ivan” teriak gue saat melihat sosok nya yang berdiri tak jauh didepan, dia tampak menoleh begitu juga segerobombolan cewek-cewek yang dari tadi mengerumuninya, dengan sedikit ragu gue menghampirinya, membuang jauh-jauh gengsi gue untuk menyapanya duluan. Gue harus minta maaf dan ngucapin makasih sama dia, karena ini pertama kalinya gue ketemu dia setelah keluar dari rumah sakit kemarin.

“Kenapa.?” Tanya Ivan dengan nada males. Wajahnya benar-benar menyebalkan kalau lagi seperti itu, huh kalau bukan karena gue merasa berhutang budi sama nih cowok, ogah deh gue menghampirinya seperti ini.

“Ehem, gue... boleh ngomong sama loe sebentar.?” Tanya gue hati-hati.

“Ngomong aja.” Jawab Ivan sambil menghadap kearah gue dan memasukkan kedua tangannya disaku celana. Siap mendengarkan apa pun yang akan gue ucapkan.

“Emmm,, gue...” kata-kata gue terhenti dan menatap kesekeliling yang sepertinya makin banyak saja cewek-cewek yang mengerumuni kita. Gue perhatikan satu-satu. Cantik. Bahkan diatas rata-rata. Apa lagi semuanya juga sepertinya dari keluarga yang berada, ditambah lagi mereka sepertinya pada menggunakan segala cara untuk mencari perhatian dari cowok idola kampus ini. Hanya saja ada sayang nya. Sayang banget, dicuekin sama Ivan. Halakh. Dasar cowok nggax punya prasaan.!

“Hais,...” keluh Ivan yang sepertinya tau apa yang gue rasakan saat ini “Ikut gue” lanjutnya sambil menarik tangan gue mengikutinya. Yang membuat tatapan cewek-cewek lain melotot melihat kejadian yang tepat berada didepan mereka, sepertinya keselamatan gue bakal terancam mulai sekarang, bayangkan saja. Mereka menatap gue seperti mau menelan gue hidup-hidup saat ini juga begitu melihat tangan Ivan yang menggenggam tangan gue, tapi urusan itu bisa gue urus nanti. Yang sekarang harus gue tahan adalah. Tentang keselamatan jantung gue... kenapa berdetak seperti mau keluar setiap tangan Ivan menyentuhnya.

Tapi ntah kenapa tetap terdengar menyenangkan, perasaan tenang seoalah semua masalah sebesar apapun bisa gue lewati asal tangan ini tetap berada dalam jarak dekat sama gue. Tanpa tau apa yang gue rasakan dan gue lakukan. Gue merasa tangan gue membalas menggenggam tangannya. Bahkan gue nggax perduli kalau Ivan menyadarinya. Yang gue rasakan hanya rasa menenangkan yang gue terima. Seolah dunia berada dalam genggaman gue saat ini.

“Loe mau ngomong apa.?” Pertanyaan Ivan menyadarkan gue dari lamunan, dan dengan cepat gue melepas genggaman tangan yang menenangkan itu dengan perasaan sedikit nggax rela. Sepertinya ini di atap kampus, dan disini hanya ada gue dan Ivan doank. Gue menghembuskan nafas menetralkan detak jantung gue yang sempat berantakan.

“Ehem, gue... Mau memberikan ini buat loe” kata gue sambil mengeluarkan kotak kecil dari saku dan menyerahkan kearahnya “Sebagai Ucapan makasih serta maaf gue sama loe” lanjut gue sebelum dia berfikiran yang macem-macem.

“Satu hadiah buat dua permintaan.???” Tanyanya sambil menunjukkan kotak kecil yang diambilnya dari tangan gue. Membuat gue berusaha mati-matian menahan emosi gue melihat jawabannya. Masih sukur gue mau mengucapkan makasih. Huh, dasar...

“Atau... loe membutuhkan sesuatu yang bisa gue lakukan sebagai ucapan makasih.?” Tanya gue berusaha sabar. Orang tua gue nggax pernah ngajarin gue jadi orang yang nggax tau terimakasih. Jadi gue harus melakukan ini sebenci apapun gue sama orang itu. Karena semua biaya rumah sakit Ivan yang nanggung, bahkan dia juga yang udah nungguin gue, dan kalau boleh ditambah dia juga yang udah nyelametin nyawa gue. Jadi gue harus melakukannya.

“Emmm...” Ivan tanpak berfikir sesaat. Oh ternyata ada ya... “Gue mau loe jadi pacar gue” jawab Ivan yang membuat gue kaget.

“Huh, lupakan permintaan gue tadi” kata gue sebel yang udah nggax bisa menahan emosi gue lagi, permintaannya benar-benar gila. Tapi saat gue siap melangkah pergi, Ivan langsung menahan tangan gue.

“Sepertinya loe nggax niat buat ngucapin makasih dan maaf itu” kata Ivan yang membuat gue kembali menghadap kearahnya.

“Gue itu nggax mau berhutang budi sama orang lain, termasuk sama loe. Tapi kalau loe minta hal gila itu, maaf. Anggap aja gue orang yang nggax tau terima kasih” jawab gue sebel.

“Oke, kita tawar. Gue akan memaafkan dan menerima ucapan terima kasih loe itu kalau loe mau ngelakuin sesuatu buat gue” balas Ivan akhirnya ngalah.

“Apa.?” Tanya gue nggax sabar yang ingin cepat-cepat pergi dari hadapan cowok nyebelin ini.

“Mulai sekarang, belajarlah menatap gue” jawab Ivan yang membuat gue kaget.

“Haa.???”

“Kalau loe bisa melakukannya, gue akan berfikir ulang untuk memaaflkan elo nantinya” balas Ivan yang langsung siap melangkah pergi, gantian gue yang menahannya. Enak saja, belom juga siap sawar-menawarnya pake acara main nyelonong gitu aja.

“Loe udah gila ya.?!” Komentar gue sebel.

“Terserah loe mau ngomong apa. Tapi hanya itu yang gue mau dari elo sekarang. Dan ngomong-ngomong, ini gue terima hanya untuk ucapan terima kasih nya. Tapi untuk permintaan Maaf, loe harus melakukan hal itu buat gue. Cukup adil kan.???”

“Adiiilll.??? Dimana letak keadilannya kalau begitu. Eh denger ya, gue nggax akan pernah mencoba melakukan hal gila itu. Loe tau ngga akan pernah.!!!” Ucap gue sebel. Karena gue nggax mau mencoba, apa loe tau van, kalau gue itu memang udah menatap loe. Loe saja yang bodoh karena tidak menyadarinya. Huh,

“Terserah loe deh, tapi coba saja loe menolak pesona gue kalau bisa. Gue akan membuat elo berfikir ulang tentang gue” jawab Ivan yang nggax mau kalah.

“Sebenernya apa sih mau loe itu.?” Gue makin sebel.

“Membuat elo menatap gue” jawab Ivan santai.

“Gila. Apa kurang dengan semua cewek yang ketemu sama elo itu terpesona sama loe. Kenapa loe harus melakukan hal itu juga sama gue. Apa sebegitu bangganya loe kalau semua orang terpesona sama ketampanan loe itu.” Kata gue.

“Gue akan lebih seneng kalau hal itu juga berlaku buat loe. Kalau memang loe juga merasakannya, gue nggax butuh pendapat orang lain” jawab Ivan yang makin membuat prasaan gue nggax menentu. Ada seneng, tapi ada juga prasaan takut. Seril, sadarlah. Dia itu Ivan cowok playboy yang hanya membuat cewek-cewek menangis karenanya. Loe nggax mau kan termakan sama omongan buayanya itu...

“Huh. Rayuan model apa itu.? Mungkin kalau kata-kata itu diucapkan buat cewek lain, dia akan meleleh mendengarnya. Sayang sekali, itu nggax berlaku buat gue. Simpen semua kata gombalan loe itu buat merayu cewek lain, gue sama sekali nggax tertarik mendengarnya” balas gue.

“Oh ya.??? Gue tau loe suka sama gue, kenapa nggax mau mengakuinya saja Seril...”

“Hee.??? Sepertinya telinga loe ada yang bermasalah deh, apa loe nggax mendengar apa yang gue katakan. Gue. Seril. Nggax. Bakal. Pernah. Suka. Sama. Cowok. Playboy. Seperti. Elo. Ivan.!!!” Jawab gue penuh penekanan disetiap katanya.

“Apa kalau gue menjadi seperti yang loe inginkan, loe akan merubah pandangan loe sama gue.?” Tanya Ivan.

“Maksud loe.???”

“Gue akan menjadi cowok baik-baik mulai sekarang. Dan gue akan buktikan kalau gue bisa jadi seperti apa yang loe inginkan. Dan setelah hal itu terjadi, loe nggax boleh punya alasan lagi menolak gue. Ngerti.!”

“Cinta nggax bisa dipaksakan Ivan.!” Tegas gue.

“Tapi cinta bisa dimulai dengan usaha. Loe harus belajar mencoba menatap gue mulai sekarang agar loe bisa suka sama gue. Dan gue nggax mau ada alasan lain lagi saat gue udah menjadi seperti yang loe inginkan” kata Ivan nggax mau kalah.

“Gue nggax mau berurusan sama orang gila seperti elo” balas gue akhirnya dan siap melangkah pergi, tapi lagi-lagi Ivan menahan tangan gue, dan dengan gerakan cepat mendorong gue kedinding serta menghalangi langkah gue dengan tubuhnya. Dan kini jarak diantara gue dan Ivan hanya beberapa inci. Membuat jantung gue yang tanpa dikomando berdetak lebih cepat dan semakin cepat.

“Jangan pernah coba-coba pergi dari sisi gue.!” Tegas Ivan. Astaga.! Kenapa wajahnya benar-benar mengerikan saat mengatakan hal itu. Ada apa sama cowok ini. Kenapa tingkahnya semakin gila saja.

“Menyingkir. Dari. Hadapan. Gue. Se ka rang.!!!” Kata gue dengan penekanan disetiap kata nya. Gue bisa mati kalau jantung gue benar-benar keluar dari rogganya kalau begini ceritannya. Gue nggax mau mati muda.

“Gue sama sekali nggax keberatan dengan posisi ini. Bahkan kalau gue boleh tambahkan, gue suka sama posisi ini” jawab Ivan sambil mengeluarkan smille smirik nya.

“Ivan, please, gue mohon... lepasin gue” kata gue akhirnya dengan wajah memelas.

“Gue akan melepaskan elo, kalau loe mau merubah pendirian loe dan mau menatap gue mulai sekarang” kata Ivan nggax mau kalah.

“Itu adalah hal gila yang akan gue lakukan dan gue menolaknya” tegas gue.

“Kalau gitu, berarti loe lebih memilih posisi ini selamanya” jawab Ivan santai.

“Gue nggax mau mencintai cowok playboy seperti elo”

“Kalau gue nggax playboy apa loe mau menatap gue.?” Tanya Ivan.

“Baiklah, Akan gue fikirkan” jawab gue.

“Loe suka sama gue kan.???” Kata Ivan.

“Silahkan bermimpi.!” Tegas gue, dan sepertinya benar-benar hal yang salah. Karena itu membuat Ivan sedikit mengluh dan mendekat kan wajahnya kearah gue sedikit demi sedikit. Apa yang mau dia lakukan... jangan bilang kalau dia “Ivan, stooopp...” pinta gue, tapi dia nggax menghiraukan tapi malah semakin mendekat kan wajah nya kearah wajah gue, membuat jantung gue berdetak nggax beraturan. Dan nafas gue terasa begitu sesak, bingung mau melakukan apa.

Sebelum bibirnya menyentuh apa yang harus nya menjadi firs kiss gue, dengan cepat dia melepaskan gue secara tiba-tiba, melangkah mundur sedikit menjauh, wajahnya juga seperti kaget. Mungkin dia juga merasa kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan. Ntahlah gue nggax tau apa yang berada difikirannya saat ini.

“Sial. Akibatnya benar-benar buruk” kata Ivan pelan yang masih mampu gue dengar, sepertinya kata-kata itu ditujukan buat dirinya sendiri. “Dan elo... lihat saja nanti, kalau setelah ini loe masih berkilah menolak kehadiran gue, gue akan menghantui loe seumur hidup. Gue nggax melakukan ini dengan hasil yang lagi-lagi loe tolak” lanjutnya. Dan dengan cepat melangkah pergi.

Tentu saja gue nggax sempat mencegahnya karena gue belum seberapa sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Kenapa sama dia.??? Apa yang membuat dia menjadi seperti itu. Mengerikan.!!! Apakah itu tadi,... bisa dibilang ungkapan prasaan.??? Tapi dia sama sekali nggax mengatakan kalau dia mencintai gue, aduuuhh sadarlah Seril. Itu semua pasti Cuma akal-akalan nya dia saja. Dasar cowok playboy. Sepertinya mulai sekarang gue harus jauh-jauh dari cowok gila itu.

Cerpen Cinta My Idola

Ternyata Ivan benar-benar melakukan apa yang dia katakan kemaren. Gue heran sebenernya ada apa sama dia. Sudah satu bulan ini, dia terus-terusan berkeliaran disamping gue, bahkan selalu menggoda gue dengan senyumannya yang mampu membuat gue mau nggax mau membalas senyumannya itu seolah terhipnotis, tapi tentu nya gue segera menyadari itu dan dengan sekuat tenaga menjauh darinya yang jujur sangat sulit gue lakukan. Karena entah kenapa, sepertinya hati gue menginginkan hal yang sebalikknya. Tetap berada disamping cowok ini.

“Mau gue bantuin nona manis.?” Pertanyaan itu nggax gue gubris sama sekali, karena tanpa melihat pun gue sudah tau siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan orang yang mendadak gila itu. Dan saat ini dia jelas lagi caper lagi sementara gue yang sedang membawa beberapa buku ke Perpustakaan.

“Haiiisss,...” keluh nya dan dengan gerakan cepat kini gue sudah berada ditepi dinding dan dia yang menhalangi tepat didepan gue sementara buku-buku yang gue bawa jatuh berserakan “Bisa nggax sih, loe nggax menghindari gue dan nggax pernah menganggap gue itu ada.???” Pertanyaan itu terlontar sebelum gue sempat mengusai keadaan.

“Astaga.! Ivan. Loe itu apa-apaan sih, menyingkir dari hadapan gue sekarang.!!!” Bentak gue sebel.

“Baiklah...” Ivan menjauh, dan dengan cepat gue berjongkok mengumpulkan buku-buku gue kembali, tampak Ivan ikut berjongkok.

“Loe kenapa sih menghindar dari gue terus.?” Tanya Ivan.


“Karena gue nggax mau berurusan sama cowok gila seperti elo” jawab gue tanpa menatapnya, Ivan yang ikut memungkut buku gue langsung berhenti.

“Tapi gue kan udah berubah seperti yang loe inginkan” Ivan nggax terima.

“Dan gue nggax pernah memintanya bukan.???” Balas gue “Lagian loe berubah mejadi orang yang berbeda jauh dari yang selama ini gue kenal. Itu membuat gue takut” lanjut gue.

“Bukannya ini yang loe mau.?”

“Apa gue pernah mengatakannya.??? Nggax kan, gue Cuma nggax suka sama loe yang playboy, bukan berarti loe bisa beruba menjadi cowok lebay yang benar-benar membuat gue risih. Gue nggax mau lagi loe berada disekita gue” kata gue yang membuat Ivan terdiam, gue merebut buku yang berada ditangannya, sekilas gue melihat gelang yang bertengger dipergelangan tanganya, gelang itu... itukan yang gue berikan sebulan lalu sebagai ucapan maaf gue, ternyata dia memakainya.

Dan sebelum Ivan sempat menahan gue, gue buru-buru melangkah pergi, heran juga sih, biasanya dia bisa dengan cepat menahan gue, tapi kenapa saat ini dia nggax melakukannya. Ada apa dengannya.??? Ah sudahlah, yang jelas gue nggax lagi berurusan sama tuh cowok gila. Menjengkelkan.!

Bersambung...

Cut Dullu yaaa... Hehehe sepertinya ada perubahan, awalnya mau dibuat tiga part ajja, tapi tiba-tiba idenya bertambah yang membuat nie cerpen kagak jadi End pada part 03 ini. Yaa paling nggax ada satu atau dua part lagi laahh... Ditunggu ya, Hehehe...

Salam~Mia Cantik~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar