Cerpen Cinta My Idola ~01

Haaaiii... Ketemu lagi kita dengan cerita baru lagi ini sepertinya... Heemm, Niat hati sii mau posting cerita dua hari sekali atau yaaa paling ga satu minggu dua atau tiga kali laahh... Jadi sekarang lagi diusahanin buat disiplin. Wekwkwkwkk.... Tappiii... Itu jika tidak ditambah dengan rasa Malas yang tiba-tiba menyerang. Heheh, Dan judul kali ini Cerpen Cinta My Idola. Ga tau gimana alurnya yang jelas ini cerita udah lama di draf computer. Sampe lupa jadinya.

Sebenernya Mia cantik ini bukan ga mau mosting, hanya saja terkadang saat jaringan yang emang mahal banget ini kagak muncul jadi drop langsung deh mood nya. Abis dulu waktu beli laptopnya lupa ga minta sama jaringannya sekalian. Wkwkkw... Malah curcol ga jelas diaaa... Ya sudah lah dari pada kebanyakan curcol ga jelas. Langsung saja kita liad ceritanya bagaimana. Sebelumnya bisa juga membaca postingan Sebelumnya Cerpen Misteri Sepucuk Surat Terakhir. Over All, Happy Reading saja lah yaa...



“Kita Putus” Kata Ivan.

“Apa? Putus?!” Cisa kaget.

“Iya. Pu-tus” tegas Ivan dan siap melangkah pergi, tapi Cisa langsung menahannya dengan cepat.

“Tapi van, kenapa?” Tanya Cisa dan tanpa sadar air matanya membendung dikelopak matanya.

“Karna gue nggax suka sama loe” jawab Ivan santai membuat cekalan dilengannya terlepas. Dan Ivan pun melangkah pergi, meninggalkan sang cewek. Tanpa menghiraukan air mata Cisa yang mengalir deras dengan keputusannya yang sepihak.

Cerpen Cinta My Idola

Nama gue Seril, gue anak baru di campus ini. Tepatnya kampus ‘Mawar’ kampus paling terkenal disini. Tempatnya orang-orang tajir belajar. Gue berada disini, bukan berarti gue juga termasuk dari mereka. Tapi karena prestasi gue lah yang membawa gue kesini, mendapat kepercayaan dari sekolah gue yang dulu untuk terus melanjutkan pendidikan disini dengan biaya yang ditanggung dari sekolah.

Begitulah enaknya jadi orang pinter. Loe nggax perlu biaya buat kemana-kemana yang penting punya skill. Kemampuan. Gue harus belajar makin meningkat nih dari biasanya, agar bisa mencapai cita-cita gue. Salah satunya yaa itu tadi keliling dunia gratis, he he he. Dan gue itu paling seneng sama yang namanya gratisan. :-D

Hari ini hari pertama gue dikampus ini, dan gue melangkah mengelilingi kampus ini. Melihat-lihat betapa menakjubkannya cipta karya manusia. Dan tiba-tiba pandangan gue terhenti pada sepasang makhluk. Dan tak jauh didepan gue, tampak seorang cowok yang dengan egois nya meninggalkan sang cewek yang sedang menangis yang gue yakini mereka punya hubungan. Kesan pertama gue buat cowok itu untuk pertama kalinya adalah. Nggax punya prasaan!!!

Nggax mau terlalu ambil pusing gue pun melangkah pergi, menelusuri koridor kampus dengan banyak harapan. Salah satunya, jangan sampai gue berurusan sama cowok nggax berprasaan seperti dia. Untuk mengembalikan mood gue yang sempet hilang gue pun kembali berjalan melihat-lihat. Gue nggax tau ini tepatnya dimana, tapi gue tetap melangkah mengikuti hati gue, karena keasyikan melihat-lihat, gue nggax memperhatikan langkah gue. Dan tiba-tiba...

BRRUUUUKKKK.!!!

“Aduh...” kata gue begitu tubuh gue sukses mendarat dilantai koridor, dengan cepat gue menatap apa yang gue tabrak, yang langsung sukses membuat mata gue membulat dan mulut gue terbuka tanpa suara. Astaga!!! Apakah dia manusia??? Tuhan, kalau kau bisa dengan mudahnya menciptakan makhluk sekeren ini. Kenapa kau membuang-buang waktu menciptakan makhluk yang jeleg... wajahnya benar-benar menyilaukan untuk mata manusia. Sumpah, keren banget. Mengagumkan! Nggax nyesel deh gue masuk disini.

Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa, samar-samar gue melihat dia menjongkok tepat didepan gue, kenapa jantung gue bereaksi dengan cepat. Apaaaa... ini yang orang-orang sebut dengan cinta pada pandangan pertama???

“Loe bisa bangun sendiri kan?” Pertanyaan itu sukses menarik gue kealam sadar secara paksa! What??? Apa dia bilang??? Beginikah sifat orang yang gue kagumi??? Nggax, nggax, nggax. Lupakan keterpesonaan gue tadi, dia nggax pantas menjadi cinta pertama gue.

Dengan cepat gue berdiri diikuti oleh cowok nggax punya prasaan ini yang langsung mendapat tatapan paling menjijikan dari gue. Ini pertama kalinya gue menujukkan emosi gue sama orang lain. Karena biasanya gue akan bersikap baik sama siapa pun. Tapi sepertinya tidak untuk orang seperti dia. Tapi herannya dia santai saja lho... bahkan pasang wajah tanpa dosa dengan memasukkan kedua tangannya disaku celana. benar-benar menyebalkan, angkuh juga sombong.

“Huh, kenapa sih setiap cewek itu sama? Selalu terpesona sama gue” keluhnya. Bahkan dia ngomongnya dengan nada seolah dia nggax menginginkan itu.

“Sayangnya, itu nggax berpengaruh buat gue” balas gue dengan sekuat tenaga menahan emosi gue. Dia tampak sedikit kaget dan mendekatkan wajahnya kearah gue.

“Benarkah???” Tanyanya pasang wajah nggax percaya, dan dengan situasi ini benar-benar membuat gue gugup. Bayangkan saja, saat orang yang sempat loe kagumi berada dalam jarak yang nggax lebih dari 3 inci didepan loe. Jantung gue langsung lepas kendali dan kembali berdetak dengan cepat. Dari jarak sedekat ini gue bisa dengan leluasa memperhatikan wajah mempesonanya. Tapi tunggu dulu, gue sepertinya pernah liat nih cowok deh, Astaga! Dia kan...

“Ivan!” Terdengar panggilan dari samping. Refleks, gue dan cowok nggax berperasaan ini menoleh keasal suara yang tepat berada di samping gue.

“Iya. Ada apa Raf?” Tanya cowok didepan gue yang gue yakini bernama Ivan.

“Loe abis ngapain aja sih? Yang lain udah pada nunggu ditempat biasa lho, kok loe malah asyik pacaran” jawab temennya yang membuat gue kaget. Tunggu, sepertinya ada yang harus diralat disini.

“DIA BUKAN PACAR GUE!!!” ralat gue dan cowok yang bernama Ivan ini berbarengan. Dengan cepat gue menoleh kearahnya yang juga melakukan hal yang sama. Dan membuat gue dengan cepat membuang wajah menatap kearah lain. Herannya dia juga melakukan hal yang sama dengan gerakan cepat. Menyebalkan!!!

“Eeehhh... Oh, iya deh kalau bukan. Ya udah, yuk van” ajak temennya, Ivan melangkah mengikuti ajakan itu “Siapa dia?” Samar-samar gue mendengar pertanyaan yang dilontarkan kearah Ivan.

“Biasa... cewek-cewek menyebalkan!” Jawab Ivan yang jelas membuat gue sebel tingkat tinggi. Dan berfikir keras melenyapkan dia, sekarang juga! Untung orangnya udah pergi. Hufh, dasar cowok nggax punya prasaan!

Cerpen Cinta My Idola

Nggax kerasa udah sebulan gue berada dikampus ini. Benar-benar menyenangkan, pelajaran yang gue dapat disini juga nggax buruk-buruk amet. Suasananya juga adem. Benar-benar menyenangkan. Dengan catatan kalau nggax ada cowok menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan si Ivan itu! Cowok sarap diantara yang paling sarap! Mana nggax punya prasaan lagi. Masa dia memutuskan cewek dengan gampangnya, bahkan setiap hari lho, tepatnya setiap gue nggax sengaja bertemu dengannya. Tanpa menghiraukan tangisan sang cewek yang diputuskannya dengan santai. Wajahnya bener-bener nggax ada manis-manisnya jadi cowok.

Gue jadi sedikit heran kenapa ya, cowok nggax punya prasaan seperti itu masih dijadikan idola. Bahkan terus-terusan dikejar-kejar cewek. Tapi sampai sekarang gue tetap nggax akan pernah mengakui kalau dia itu idola. Abis, sifatnya bener-bener nggax cocok. Dan yang lebih parahnya nih ya, ntah kenapa setiap gue bertemu dengannya pasti gue tertabrak dan mengakibatkan gue mendarat dilantai kampus. Dan kalimat yang dia keluarkan selalu kata yang sama ‘Loe bisa bangun sendiri kan?’ Selalu seperti itu. Benar-benar nggax berprasaan.

“Seril” mendengar nama gue dipanggil, gue pun menoleh keasal suara.

“Renddy? Ada apa?” Tanya gue begitu melihat siapa yang nyamperin gue.

“Loe mau kemana?” Tanya Renddy.

“Pulang” jawab gue singkat.

“Sekarang?”

“Nggax. Nungguin jumpa pers dulu” jawab gue.

“Huuu ngayal! Loe fikir, loe itu gue apa”

“Iya deh, cowok keren salah satu idola di kampus” jawab gue.

“He he he, eh pulang bareng gue yuk” ajak Renddy.

“Loe nawarin gue pulang bareng??? Nggax takut dimarahin temen loe yang paling super nyebelin itu apa?” Tanya gue. Oh ya, ngomong-ngomong Renddy ini juga salah satu temennya si Ivan itu. Dan dia mulai deket sama gue itu sejak dua minggu yang lalu. Tepatnya sejak dia nolongin gue yang terjatuh gara-gara tertabrak Ivan.

“Siapa? Ivan maksud loe?” Tanya Renddy. “Ah, kalau tuh anak sih nggax usah loe fikirin” lanjutnuya.

“Siapa juga yang mikirin dia” balas gue cepat.

“Iya deh. Loe nggax mikirin dia. Tapi terus memperhatikannya” ralat Renddy.

“Enak aja. Enggaklah, gue nggax memperhatikannya kok”

“Iya, udah. Enggak. Jadi gimana nih, loe mau pulang bareng gue kan?” Tanya Renddy.

“Emmm, gratis kan???”

“Awalnya sih, tapi kalau loe mau bayar juga nggax apa-apa kok. Dengan jadi pacar gue misalnya” canda Renddy.

“Huuu... ogah! Gue Cuma mau jadi pacar orang yang gue cintai saja” balas gue.

“Seperti Ivan maksudnya?”

“Ih Renddy. Loe apa-apaan sih, candaannya ga jauh-jauh dari tuh anak mulu” gue kesel.

“He he, abis loe gue perhatiin dua minggu ini, sepertinya setiap hari loe terus memperhatikan gerak-gerik Ivan. Dan setau gue, loe selalu nabrak Ivan tiap ketemu dia. Dan detik itu juga wajah loe memerah meski sikap loe berkebalikan banget” jawab Renddy. Ha? Masa sih, gue begitu. Ah Renddy ngasal nih.

“Ngaco loe kalau ngomong” Kilah gue.

“Yeee nih anak diomongin nggax percaya” jawab Renddy dengan tawa yang ditahannya.

“Emang nggax! Lagian mana mungkin tuh. Gue nggax mungkin suka sama cowok playboy cap gayung itu” kata gue dengan pasti.

“Gayungg???” Renddy bingung.

“Iya. Gayung. Semuanya mau diambil” jawab gue.

“Ya, Yaa, Yaaa... terserah loe, mending sekarang gue antar loe pulang. Gue mo ngambil mobil gue dulu” kata Renddy dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari gue. Huuu, Dasarr...

Sambil menunggu Renddy, gue melangkah menuju gerbang kampus, fikiran gue melayang entah kemana. Mengingat kata-kata Renddy tadi. Benarkah gue seperti apa yang dia bilang tadi? Kenapa kesannya jadi seperti gue yang cinta sama tuh anak nyebelin ya.? Ah, nggax mungkin. Gue nggax mau suka sama cowok nggax punya prasaan, playboy, angkuh, dan sombong itu. Nggax mau.! Gue terus melangkah dengan fikiran gue tanpa memperhatikan langkah gue. Dan akhirnya.... BRRRUUUKKK...!!!

“Adduuuhh...” keluh gue. Kenapa sih setiap gue ketemu cowok nyebelin ini, gue pasti mendarat dilantai?? Dengan cepat gue menatap makhluk menyebalkan itu. Yang malah memperlihatkan wajahnya yang santai dan seolah dia sudah tidak heran dengan hal ini.

“Loe bisa bangun sendiri kan?” Selalu saja pertanyaan itu yang dia lontarkan! Dengan cepat gue berdiri. Menatapnya sebel.

“Loe emang nggax ada manis-manisnya ya jadi cowok. Gue heran, kenapa masih juga ada cewek yang rela mengeluarkan air mata demi cowok seperti elo. Dan mengejar-ngejar loe setiap hari” kata gue kesel.

“Kenapa?? Loe cemburu???” Tanya Ivan santai.

“What??? Cemburu loe bilang?? Astaga, Ivan... loe nggax usah kepedean deh jadi orang” balas gue.

“Loe yakin nggax terpesona sama gue??” Ledek Ivan.

“Tentu saja” jawab gue pasti.

“Baiklah, gue tunggu sampai loe mau mengakui prasaan loe”

“Silahkan bermimpi!” Ucap gue tegas dengan cepat. Ivan hanya tersenyum misterius. Lalu melangkah pergi “Dasar cowok gila” ucap gue yang gue yakini masih mampu ia dengar. Tapi herannya dia malah hanya memasang earphone ditelinganya lho. Sumpah, loe menyebalkan Ivan!!!

Gue terus memperhatikan Ivan yang melangka pergi, mengantar kepergiannya dengan tatapan tersadis gue. Berfikir keras untuk membalas perbuatannya dengan balasan yang lebih menyakitkan dari pada ini. Tapi tiba-tiba, gue mendengar bunyi klakson sebuah ‘Truk’ dan tak jauh darinya tepat beberapa meter didepannya, Ivan yang melangkah dengan santai.

Gue yakin banget kalau dia nggax mendengar bunyi klakson karena mengenakan earphone. Tiba-tiba gue merasa kegelapan menghantui gue dan nafas gue seolah terhenti. Nggax! Jangan dia... gue mohon, jangan dia...

“Ivan, awaaasss...!!!” jerit gue, dan sekuat tenaga berlari mengejar Ivan, menarik tubuhnya sekuat yang gue bisa, mencoba menyelamatkannya sebelum gue menyesali apa yang terjadi, tapi gue lengah karena saat gue melihat Ivan menepi dan sedikit lega. Dan tepat disaat yang bersamaan gue merasa tubuh gue seolah terbang, tapi detik selanjutnya malah jatuh terbanting dengan keras. Samar-samar gue mendengar suara yang berkerumunan, dan suara Ivan yang menjerit memanggil nama gue dengan nada khawatir dan takut. Sampai suaranya bergema lalu tiba-tiba semuanya gelap.

Bersambungg....

Heheh Cut dulu yaa... Nanti kalau Mia yang cantik ini ga berubah fikiran bakalan datang dan muncul lagi... Wkwkkw #Narsis_Ga_Dosa_Kan...

Salam~Mia Cantik~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar