Cerpen Cinta I am Falling in love with you ~ 03

Oke, all. Lanjutannya rada molor ya?. Ha ha ha, sory. Soalnya emang ada sedikit trouble something gitu. Tapi tenang aja, toh pada akhirnya lanjutan Cerpen Cinta I am Falling in love with you ~ 03 berhasil muncul ke permukaan juga kan?. wkwkwkwkwk...

Nah, biar nggak ngobrolnya jadi ngalor ngidul, mending langsung baca aja yuk gimana ceritanya. Cekidots,...


Mirma duduk ditaman kota, tempat yang selalu ia kunjungi untuk menunggu kehadiran Surya dulu, hanya saja kali ini dengan alasan yang berbeda. Dia hanya duduk dan tanpa sadar tangannya melukis sketsa wajah yang baru-baru ini muncul difikirannya. Siapa lagi kalau bukan Steven. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh mengenai kepalanya.

“Aduuh... apa lagi ni” kata Mirma sambil memungut benda yang mengenai kepalanya tadi “Kunci?” Mirma bingung, mendapati sebuah kunci Mobil “Sepertinya gue kenal sama gantungan kunci ini. Tunggu deh, jangan-jangan ini...” Benar seperti dugaanya sebelumnya. Karena saat Mirma mendongkakkan kepalanya keatas, ia melihat Steven yang memejamkan matanya diatas salah satu dahan pohon.

“Astaga!! Tidur diatas pohon??” kata Mirma tertahan sambil geleng-geleng kepala. Lalu memperhatikan wajah Steven yang masih terlelap “Di lihat-lihat ternyata nih anak keren juga. Aha, sepertinya gue punya ide” lanjutnya dan mengeluar kan hanponenya dengan hati-hati. Menaiki kursi untuk bisa melihat wajah Steven lebih dekat, Lalu mengarahkan camera kearah wajah Steven. Mirma tersenyum senang.

‘Cekrik...’

Dengan cepat Mirma turun dari kursi dan melangkah menjauh. Menyesali kesalahan yang telah ia lakukan. Memang susah memiliki Derita otak pas-pasan. Kenapa harus lupa Men silent camera hanpone nya sih. Mirma memukul-mukul kepalanya sendiri begitu mendengar suara dari belakang. Yang ia yakini suara yang ditimbulkan Steven saat menuruni pohon.

“Mirma” panggil Steven membuat Mirma dengan hati-hati membalikkan badannya sementara kedua tangannya masih ia sembunyikan dibelakang tubuhnya untuk menutupi keberadaan hanponenya.

“Eh Steven. Kok loe bisa berada disini?” tanya Mirma dengan senyum yang ia paksakan tapi malah terkesan sedang menyembunyikan sesuatu, membuat Steven menatapnya curiga.


“Apa yang loe sembunyikan?” tanya Steven. Membuat Mirma makin gugup dan dengan tampang yang sedikit menyakinkan menggeleng kuat-kuat.

“Tentu saja tidak ada. Memangnya apa yang harus gue sembunyikan?” Mirma balik bertanya.

“Entahlah. Sepertinya sesuatu yang nggax seharusnya gue lihat. Hanya saja gue nggax suka penasaran” balas Steven sambil berjalan menghampiri Mirma.

“Loe mau ngapain?” tanya Mirma gugup dan makin mempererat genggaman pada hp nya.

“Siniin tangan loe” pinta Steven sambil menyodorkan tangannya.

“Nggax mau” tolak Mirma, membuat Steven mengangkat sebelah alisnya. Lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.

“Loe Mau memberikan baik-baik atau gue yang memaksanya?” tanya Steven dengan tatapan intens nya. Membuat Mirma sedikit takut tapi tetap tidak bergeming, lalu memalingkan wajah nya kearah lain dengan angkuh. Membuat Steven tersenyum geli “Baiklah” lanjutnya dan melangkah kedepan, berhenti tepat didepan Mirma.

“Loe mau ngapain?” tanya Mirma sedikit takut.

“Entahlah, loe lihat saja” jawab Steven dengan tangan yang menyelinap kebelakang tubuh Mirma, seolah memeluknya. Hanya saja tangannya berkutat pada tangan Mirma yang masih dengan tegas mempertahan kan hanponenya.

“Ini bukan seperti yang loe bayangkan Stev?” kata Mirma masih mempertahankan hape nya.

“Loe mau memberikannya, atau loe memang mau tetap berada dalam pelukan gue seperti ini?” pertanyaan Steve membuat Mirma menatapnya tajam tapi herannya Steve malah cuek saja lho “Ah sayang sekali ini nggax bertahan lama” jawab Steven sambil melangkah mundur karena tangannya kini sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Balikin hape gue Steve. Disana nggax ada yang bisa loe lihat” kata Mirma.

“Apa ini?” Steve kaget begitu melihat layar hape Mirma yang masih memperlihatkan wajah nya yang tertidur pulas, bahkan diatas pohon.

“Loe menyebalkan!” Mirma sebel dan melangkah duduk dikursi yang ia duduki tadi, menyesali kebodohannya dan menanggung malu yang ia rasakan. Steve mengikuti dan ikut duduk disamping Mirma.

“Loe yakin nggax mau mengakui ke kerenan gue sekarang?” Ledek Steven ala narsis.

“Gue Minta Maaf deh, kalau loe mau ngehapus tuh foto hapus saja.” Kata Mirma tanpa menatap Steve dengan wajah tertunduk. Steve terdiam sesaat, lalu menatap Mirma.

“Baiklah, gue akan memaafkan loe, tapi ada syaratnya” balas Steven. Membuat Mirma menatapnya bingung.

“Syarat?”

“Tentu saja, loe fikir apa yang gratis didunia ini?” ledek Steven, membuat Mirma memajukan mulutnya beberapa senti “Sekarang, berekpresilah sebaik mungkin” lanjutnya sambil mengarahkan camera kewajahnya yang tepat berada disamping Mirma.

“Steve, apa yang loe lakukan?” protes Mirma.

“Narsis” jawab Steven santai sambil melihat hasil jepretannya “Wah apaan begini. Gaya loe protes. Nggax taunya wajahnya berekspresi semanis itu” protes Steven setelah melihat ekspresi Mirma yang tersenyum manis sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V. Yang diprotes malah hanya mengeluarkan senyum dua kelinci andalannya.

“Udahkan, sini in hape gue” pinta Mirma sambil menyodorkan tangannya. Steve memberikan nya dengan sedikit nggax rela setelah meng sent tuh foto dengan via Bluetooth ke hapenya.

Lalu mereka mengobrol ngalor-ngidul nggax jelas, membuat keakraban yang mereka ciptakan sendiri. Tapi sepertinya hanya Mirma yang bercerita karena Steven lebih banyak memperhatikan apa yang Mirma katakan dari pada ikut menceritakan tentangnya. Sepertinya menatap wajah Mirma membuatnya tidak pernah bosan sedikit pun. Tanpa Mirma sadari prasaan Steve yang begitu merindukan Mirma terungkap dalam hatinya.

“Gue seneng melihat loe bisa tersenyum bahagia seperti ini lagi Mirma” kata Steven dalam hati.

“Loe kok ngelamun sih,” tegur Mirma, membuat Steve menggeleng secara rafleks, lalu matanya terhenti pada lembaran kertas tepat disampingnya.

“Apa ini? Sketsa wajah gue??” kata Steve yang membuat Mirma kaget dan buru-buru merampok hasil coretannya tadi.

“Nggax seharusnya loe melihat ini” kata Mirma dan menyembunyikan kertas itu disebalik tubuhnya.

“Loe bisa melukis wajah orang lain tanpa melihat objek nya?” kagum Steve.

“Ini hanya karena loe mirib seseorang yang gue...” kata-kata Mirma terhenti.

“Yang loe cinta?” lanjut Steven.

“Bukan. Tapi lebih dari pada itu, hingga membuat gue membencinya” jawab Mirma.

“Apa kah karena itu loe akan Membenci gue nantinya?” tanya Steven.

“Tidak. Tentu saja tidak. Gue tau loe orang yang berbeda. Walau mata kalian mirib. Tapi gue yakin loe nggax ada hubungannya sama Surya” jawab Mirma sambil menggelengkan wajahnya sekilas.

“Surya?”

“Iya. Gue pernah menceritakan tentang dia sama loe kan, kalau Surya adalah orang yang mengajarkan gue cinta, juga merangkap menjadi orang yang mengajarkan gue tantang menerima kenyataan menyakitkan” jawab Mirma dengan pandangan menerawang.

“Loe membencinya?” tanya Steven hati-hati.

“Awalnya nggax. tapi setelah apa yang terjadi sekarang. Entahlah, gue belum bisa menerima keputusannya. Gue bener-bener kecewa sama dia” jawab Mirma.

“Mirma, gue tau kalau gue nggax pantas ngomong ini sama loe, karena gimanapun juga elo yang telah melewati ini semua. Tapi kalau gue boleh ngasi saran. Nggax seharusnya loe membenci Surya” kata Steven, membuat Mirma menatap kearahnya “Maafkan semua kesalahannya dan loe akan tau betapa dia sangat mencintai elo” lanjut Steven.


“Cinta? Maksud loe cowok yang udah meninggalkan gue tanpa sepatah katapun, membuat gue menunggu tanpa kepastian, serta nggax pernah memikirkan gimana sakitnya prasaan gue itu masih bisa dibilang mencintai gue?” tanya Mirma mulai sedikit emosi, tanpa sadar air matanya mengalir.

“Mirma, loe denger gue. Ini semua nggax seperti yang loe bayangkan. Karena loe nggax tau apa yang terjadi. Mungkin saja, dia punya alasan yang dia juga nggax bisa memberi tau elo tentang itu. Gue tau ini berat buat loe Mir, tapi bisakah loe mengingat apa yang telah kalian lewati dulu, apakah semua itu bisa membuat loe berfikir kalau dia pantas untuk dibenci?”

“Jangan berbicara seolah loe tau segalanya” kata Mirma tajam membuat Steven terdiam.

“Loe salah Mirma, gue tau segalanya. Gue tau semua yang telah terjadi. Dan gue yakin apa yang gue tau, jauh lebih banyak dari pada apa yang elo tau” kata Steven dalam hati.

“Maaf, gue nggax bermaksud begitu...” kata Mirma tiba-tiba sambil mengusap air matanya yang malah makin mengalir dan menatap Steven merasa bersalah.

“Loe nggax salah Mirma” balas Steve “Gue yang udah begitu banyak salah sama loe” lanjutnya dalam hati.

“Tapi gue tadi...”

“Udahlah” potong Steven “Loe boleh melampiaskan semua kekesalan loe sama gue, karena gue siap menerima semua yang ada dalam hati loe. Gue akan selalu seperti ini Mirma” lanjutnya dan menarik Mirma kedalam pelukannya “Karena hati gue nggax akan pernah berubah” batin Steven.

“Makasih Steve, loe benar-benar orang yang bisa membuat gue tenang” kata Mirma dalam pelukan Steven,

“Gue nggax sebaik yang loe fikirkan Mirma” kata Steven lirih dan mengusap punggung Mirma menenangkannya.
*****

“Papa... Mirma kangen...” kata Mirma sambil mencabut rumput-rumput kecil disekitar pemakaman ayahnya “Mirma ingin ketemu papa, tapi Mirma juga tau ini nggax mungkin. Papa tau nggax. sekarang Mirma udah nggax merasa kehilangan lagi Pa, Mirma punya teman untuk berbagi. Dia cowok yang sangat baik. Kalau Papa bisa melihatnya. Mirma yakin papa pasti akan menyukainya” lanjut Mirma sambil tersenyum.

“Papa tau nggax, pertemuan Mirma sama dia selalu saja sama seperti yang telah terjadi dulu. Mirma nggax tau ini maksud nya apa Pa. Tapi setiap apa yang Steven lakukan ntah kenapa itu seperti yang Surya lakukan. Papa tau, mereka hampir sama. Mirma menyukainya pa, tapi Mirma nggax tau, apa dia punya rasa yang sama ma Mirma atau pun nggax. Mirma nggax tau. Yang jelas rasa ini sepertinya akan terus berlanjut” kata Mirma.

“Dia selalu membuat Mirma tersenyum dengan caranya sendiri. Selama Mirma berada disampingnya, seolah masalah itu sangat mudah dilalui pa, Mirma nggax takut sama yang namanya Kegagalan. Hanya saja Mirma nggax tau pa, Mirma merasa itu semua karena Mirma merasa dia adalah Surya, atau karena Mirma Mencintainya. Karena rasa ini sama seperti yang Mirma rasakan dulu sama Surya pa” tanpa sadar air Mata Mirma mengalir.

To Be Continue

Admin Mia Cantik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar