Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 16

Niatnya sih mau coba agak ke hororan gitu, eh tapi kok berasa ngambang gini yak. Ckckck, ah sudahlah. Sepertinya admin amatir memang belum bisa diajak berimaginasi-ria. Kita lanjut aja ke part selanjutnya dari Mr Hero vs Mrs Zero ini ya.

Pastikan sudah lirik part sebelumnya di Mr Hero vs Mrs Zero part 15 nya ya. Happy reading...

Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 14
Cerbung Romantis Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 16

Mr Hero vs Mrs Zero


Olive melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari keramaian, ia perlu memasuki dunianya kembali. Karena ia termasuk dari anak rumahan, suasana diluar benar-benar tidak cocok dalam hidupnya. Perutnya memang sudah kenyang setelah menikmati barbeque malam ini, Devi sendiri sedang menghabiskan waktunya dengan sang kekasih, Olive sudah menyakinkan gadis itu setelah akhirnya barulah diizinkan keluar sendirian. Setelah memastikan cukup tenang dari tempatnya berdiri, Olive memperhatikan sekeliling, tidak ada yang mencurigakan, ia mendudukan tubuhnya dirumput hijau yang berembun, matanya kemudian menatap kearah langit, dimana malam ini tampak bintang tersebar luas menemaninya, terlebih lagi bulan juga muncul dengan sempurna. Romantis, bisikan hatinya membuatnya tersenyum. Ketenangan ini memang yang ia inginkan sekarang, angin yang berhembus pelan tidak terlalu membuatnya dingin apalagi dengan jaket yang dikenakannya. Olive memutuskan untuk tetap disana hingga suasana hatinya damai kembali, sambil memperhatikan keindahan malam dari jarak pandang yang bisa ia lihat.

'Whuusss'
Ketenangan yang sebelumnya dirasakan Olive mulai terusik saat angin lebih berhembus kencang, samar-samar Olive mendengar sesuatu dari arah pepohonan disampingnya. Dengan susah payah ia menguatkan hatinya dan melirik keasal suara, malam gelap yang hanya diterangi sedikit cahaya bulan membuat pepohonan tampak lebih horor dari sebelumnya. Bahkan meskipun hanya daun yang bergoyang membuatnya berfikir buruk, tidak mau semakin bersikap parno Olive berdiri dengan perlahan, menatap penuh keyakinan kearah kerumunan teman-temannya yang masih menikmati api unggun dan sebagian yang lain duduk bersama sibuk dengan ceritanya masing-masing.

"Ahh, tenang Olive..." ucap Olive sendiri sambil menyeka keringat dingin yang mulai mentes dari dahinya, ia berusaha untuk tersenyum dan melangkah pergi. Namun lagi, suara berisik dari pepohonan yang sama membuatnya terusik kembali. Perlahan, dengan takut-takut Olive memberanikan diri melirik keasal suara, berharap banyak kalau itu hanya akibat dari gesekan ranting pohon yang banyak disekelilingnya. Lama Olive memperhatikan cabang yang semakin melambai ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya mulai terasa lebih jelas.

Olive terdiam ditempatnya, kakinya seolah tidak bisa digerakan saat bayangan putih itu mulai terasa lebih nyata, kontras dengan suasana remang-remang malam yang kian menggelap bayangan putih itu justru malah bertambah terang dimatanya, dan detik yang sama saat akhirnya ia melihat kearah bayangan putih yang mulai menjadi sesosok makhluk mengerikan. Wajah pucat itu masih jelas berada dalam ingatannya, dengan mata yang membulat lebar semakin membuatnya menggigil ketakutan, jelas saja hutan ini ada penunggunya. Dan bagaimana bisa ia dengan berani keluar sendirian, Olive ingin menjerit namun suaranya tidak keluar, saat akhirnya ia menatap tepat dimanik mata hitam itu jantungnya hampir terasa berhenti.

"Hei, Olive..." Seseorang menyentuh bahunya dan membuat Olive berjengit kaget.

"Hwaa..." teriaknya cepat dan membuat keseimbangannya goyah, tubuhnya langsung mendarat diatas rumput yang mulai basah karena embun malam David menatap kearahnya dengan pandangan khawatir, wajah pucat Olive membuat ketenangannya terusik.

"Ini Aku. David," ucap David menenangkan "Kamu kenapa?" lanjutnya dan mendekat kearah Olive yang tadi terjatuh. Gadis itu seolah kehilangan kesadaran diri, keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menatap David dengan detak jantung yang bekerja dengan cepat. Kemudian air matanya mengalir dengan deras.

Satu detik, dua detik, tiga detik...

"David..." ucap Olive dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan pria itu. Akhirnya ia menemukan suaranya kembali, rasa lega mulai dirasakan saat pria disampingnya membalas pelukannya.

"Iya, ini aku. Kamu baik-baik saja sekarang," ucap David menenangkan sambil mengelus-elus punggung Olive yang tampak bergetar ketakutan. Ia melirik kearah pepohonan dimana teman-temannya tadi menyusun rencana. Pria itu menatap lurus dan memberi isyarat pada bayangan putih yang dilihatnya untuk pergi, kegiatannya kali ini benar-benar tidak semenarik biasanya. Jika biasanya ia akan dengan senang hati untuk menerima pelukan gadis-gadis yang ketakutan karena ulah usil dari teman-temannya, kali ini ia benar-benar merasa ingin menghajar kedua makhluk usil itu saat melihat betapa ketakutannya Olive saat ini.

Bayangan putih yang dilihatnya masih berdiri disana, membuat David kesal dan mengibas-ngibaskan tangannya menyuruhnya pergi. David menatap lurus kearah wajah sahabatnya mengisyaratkan kalau ini sudah cukup, namun sepertinya Dion tidak mengerti, apa mereka pikir ini lucu. Kesal, David ingin berdiri pergi namun pelukan ditubuhnya makin erat. Ia tidak bisa meninggalkan Olive sendiri, dan David bertekat akan menghajar temannya itu nanti, apa-apaan pula makeup tebal yang dikenalakannya itu, ini benar-benar diluar rencana. Pantas saja Olive begitu ketakutan, temannya memang minta dihajar. Tapi akhirnya ia memilih untuk menenangkan Olive dulu setelah memastikan Dion dan Hendra sudah pergi.

"Kamu nggak papa kan?" tanya David saat merasa Olive sudah tidak menggigil lagi, Olive melepas pelukannya dan menatap kearah David. Pria itu melakukan hal yang sama, ia menatap prihatin dan sangat merasa bersalah melihat keadaan Olive saat ini, air mata masih tersisa dipipi gadis itu membuat David memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya dan mengusapnya pelan "Maaf,..." ucap David kemudian.

"Untuk apa?" tanya Olive yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya kembali.

"Maaf sudah membiarkanmu sendirian," jawab David pelan namun Olive sendiri tau kalau kalimat itu menyimpan ketulusan.

"Bukan salah kamu kok, Aku yang memang ingin sendirian. Terimakasih sudah datang," balas Olive yang mulai salah tingkah dan menjauhkan tubuhnya, berdekatan dengan pria yang membuat jantungnya tidak karuan setelah moment memalukan dirinya memeluk pria ini lebih dulu jelas bukan pilihan yang bagus. David membiarkan Olive dan ikut duduk disamping gadis itu.

"Maaf untuk beberapa hari terakhir," lanjut David pelan, Olive melirik kearahnya dan bingung akan beraksi seperti apa. kemudian ia lebih memilih untuk diam "Aku nggak bermaksud untuk menghilang begitu saja," lanjut David kembali "Sadar kalau mendekatimu selama ini membuatmu jelas merasa tidak nyaman jadi aku..."

"Tapi kita baik-baik saja sebelum ini," potong Olive cepat bahkan sebelum pria itu melanjutkan ucapannya, Dan Olive menyesali kalimat yang ia ucapkan, mau tidak mau David tersenyum mendengarnya. Sadar kalau ucapan Olive menandakan bahwa gadis itu sudah tidak menolak untuk dekat dengannya.

"Baiklah, kita bisa menanggapnya begitu. Jadi kamu nggak keberatan kalau aku mendekatimu kembali kan?" tanya David masih dengan senyuman.

"Aku tidak bilang begitu..." jawab Olive sambil memalingkan wajahnya dan menolak untuk menatap kearah pria yang sedang menatapnya.

"Memang, tapi aku yang beranggapan begitu. Ngomong-ngomong aku berusaha untuk menjadi pria baik-baik beberapa waktu ini dan percayalah itu benar-benar bukan gayaku," kata David sambil tertawa, Olive yang mendengarnya juga ikut tertawa meskipun ia tidak mengetahui kebaikan apa yang sudah pria itu lakukan.

"Pada kenyataanya, aku sendiri juga tidak tau bagaimana gaya kamu yang sesungguhnya," balas Olive sambil mengulum senyum.

"Dan aku dengan senang hati untuk memperkenalkan diriku padamu," kata David penuh percaya diri, Olive membalasnya dengan tawa. Kemudian percakapan demi percakapan mengalir lancar diantara mereka, berbagi apa yang seharusnya ia bagi. Menceritakan sampai kisah sepele sekalipun, keakraban langsung kembali tercipta saat keduanya mulai membuka diri, saat yang satu menceritakan kisah hidupnya dan yang lainnya mendengarkan.

Mr Hero vs Mrs Zero


David melangkah dengan senyuman setelah memastikan Olive kembali dengan selamat kepada kelompoknya, malam ini mungkin bisa dijadikan sebagai malam pengenalannya pada gadis itu. Semakin membuat detak jantungnya menggila, bahkan hanya dengan senyuman Olive sedikit saja mampu menggerakan hatinya untuk ikut tersenyum. Entah sejak kapan gadis itu sudah menerobos masuk kedalam hatinya.

Keputusannya menjauh benar-benar dirasakan pilihan bodoh saat memulainya, terakhir setelah pembicaraannya dengan Naila membuatnya tidak siap jika akhirnya malah ia yang jatuh cinta beneran dengan Olive, namun semakin ia memutuskan untuk pergi semakin bayangan gadis itu tidak pernah lepas dari ingatannya. Seolah Olive dengan sengaja tidak membiarkannya tenang, bahkan meskipun ia menyibukkan diri dengan berbagai pelajaran yang bisa ia ikuti masih belum bisa menghilangan bayangan tentang Olive. Bahkan gadis-gadis yang sering digodanya tampak tidak menarik lagi, ia heran kenapa dulu bisa dengan bodohnya menggoda gadis-gadis itu.

Namun saat akhirnya ia melihat Olive yang tertawa bersama cowok yang tidak dikenalnya dan tidak berminat untuk mengenalnya itu membuatnya marah, perasaan yang mungkin baru sekarang ia menerima jika ia memang cemburu, ia sama sekali tidak suka jika ada yang membuat Olive tertawa selain dirinya, egonya sedikit tergores karena tidak bisa membuat gadis itu menatap kearahnya. Kali ini, ia menginginkan Olive lebih dari pada sekadar taruhan bisa didapatkannya dalam waktu 1 bulan. Tidak, ia bahkan rela untuk memberikan waktunya berbulan-bulan jika pada akhirnya Olive akan memilihnya.

"Kalau gue nggak salah alias bener, cowok jatuh cinta karena cemburu kan? Kalau cewek udah bisa bikin cowok cemburu, itu tandanya ia berhasil buat itu cowok dalam waktu yang bersamaan jatuh cinta dengannya," ucapan Naila beberapa waktu lalu saat terakhir ia menemuinya kembali terngiang diingatannya. Apa mungkin kali ini ia bisa mendapatkan gadis yang akhirnya ia cintai?

"Rasa bersalah," ucapan Naila kembali terngiang diingatannya "Loe cukup bikin tu cewek ngerasa bersalah, dan gue jamin dia bakal langsung mikirin loe 24 jam dalam sehari, be always dan nggak mungkin enggak," apa memang ia bisa membuat Olive jatuh cinta padanya, tapi bagaimana bisa membuat Olive merasa bersalah? Memangnya gadis itu terlihat seperti seseorang yang bisa membuatnya melakukan sesuatu yang akan disesalinya?

Tapi kemudian, David mengingat saat pertama kali hubungannya kembali membaik, saat dimana Olive meminta maaf padanya. Dan senyuman kembali tersungging dari bibirnya, "Kalau dia nggak bisa membuat sesuatu yang akan disesalinya, mungkin aku bisa menciptakan untuk dia melakukan hal yang akan disesalinya tetangku," ucapnya dengan senyum penuh percaya diri.

Langkah David terhenti saat melihat kedua sahabatnya sedang menikmati mie rebus dengan lahapnya dan fikirannya kembali saat terakhir kali melihat Olive yang ketakutan, rasa kesal langsung menyelimutinya. David melangkah kearah kedua sahabatnya dan dengan sigap menjitak kepala kedua sahabatnya dengan kedua tangannya.

'Bletak' 'Bletak'
"Aduh,..." ucap Hendra dan Dion bersamaan sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat ulah David yang seenaknya.

"Apaan sih, sakit tau..." keluh Dion dan meletakkan mangkok mie rebusnya dan menatap David minta penjelasan.

"Jangan bilang cuma karena kita makan duluan kamu marah? Liat dong ini udah jam berapa, masa kita harus nungguin orang pacaran baru bisa makan. Makanya kita makan duluan," balas Hendra.

"Masa sih gara-gara itu, kamu yakin masih lapar setelah asik pacaran berdua?" tanya Dion pasang wajah nggak percaya.

"Kalian kalau nakut-nakutin bisa lebih baik lagi nggak sih. Tanpa makeup serem juga wajah kalian udah serem," balas David sambil duduk dengan tampang kesalnya.

"Nih anak ngomong apa sih?" tanya Dion kearah Hendra yang dibalas dengan angkat bahu dari pria yang kembali fokus dengan mie rebusnya.

"Nggak usah belagak bloon gitu deh, tadi waktu nakut-nakutin si Olive. Aku lihat wajah kalian tau, biasanya juga nggak sampe separah itu. Si Olive sampe hampir pingsan, kalau dia jantungan gimana? Dan lebih lagi tadi kalian nggak ada cerita bakal pasang makeup hantu tuh, mana diusir nggak mau langsung pergi lagi. Becandaannya beneran nggak lucu tau?" keluh David masih dengan nada kesalnya. Hendra yang sedari tadi makan langsung menghentikan kunyahannya kemudian melirik kearah Dion, sementara pria yang ditatapnya juga ikut balas menatapnya.

"Siapa bilang kita nakut-nakutin Olive?" tanya Hendra pelan.

"Lah kan tadi kalian sendiri yang bilang mau nakutin tuh anak, makanya aku datang buat nyelametin. Gimana sih," jawab David makin kesal.

"Memang, tadinya begitu. Tapi gegara si Dion tuh, pake acara perutnya bermasalah lagi. Ya terpaksa deh kudu nyelesaian panggilan alam dulu. Dan begitu kita tiba disana kalian udah pacaran berdua, yaudah kita tinggal. Nggak seru kalau nakut-nakutin setelah penolongnya dateng kan?" Penjelasan Hendra membuat David terdiam dan menatap kearah kedua sahabatnya, mencari sebuah kebohongan disana. Namun nihil, ia benar-benar tidak melihat kalimat itu hanya sebuah bercandaan. Kalau teman-temannya nggak datang nakut-nakutin tadi, lalu siapa? Apa yang dilihatnya tadi?

"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Dion penasaran "Kamu nggak beneran bisa 'ngeliat' sesuatu yang seharusnya nggak kamu lihat kan?" lanjutnya sambil berusaha untuk melawak tapi kemudian ia menyadari sesuatu yang janggal dan dengan takut-takut memperhatikan kesekelilingnya, masih sama seperti sebelumnya hutan yang mulai terasa gelap dan sunyi, namun kali ini entah kenapa suasana lebih terasa mencekam.

Dion, David dan Hendra terdiam sesaat kemudian ketiganya saling berpandangan. Satu detik, dua detik, tiga detik...

"Hwaaa...." jerit ketiganya berbarengan.

Bersambung ke Mr Hero vs Mrs Zero part ~ 17

Detail cerbung Mr Hero vs Mrs Zero

Tidak ada komentar:

Posting Komentar